MetroTV Inovator Robot Pengangkut Sampah, 13.04.2011

Bagaimana mengembangkan aplikasi robotika yang bermanfaat bagi masyarakat dan industri? Pertanyaan ini menjadi basic dari program pembinaan dan pembelajaran robotika di NEXT SYSTEM Robotics Learning Center Bandung.

Memang tidak mudah untuk mendorong pengembangan dan pembinaan ke arah tersebut, namun harus dilakukan, mengingat robotika menuntut keseriusan di dalam pembelajarannya, mengingat dampaknya yang besar bagi pembelajar. Bukan sekedar menjadikan mereka sebagai juara kontes atau lomba, namun yang lebih penting adalah membentuk karakter juara di dalam diri pembelajar.

Inovasi dan kreasi merupakan dua kata penting dalam pembelajaran robotika. Inovasi dan kreasi akan melahirkan karya-karya yang bersifat terobosan, serta mampu memanfaatkan material yang ada di sekitar.

Robot Pengangkut Sampah yang ditayangkan pada acara Inovator Metro TV, 13 April 2011, merupakan salah satu karya dari anak binaan NEXT SYSTEM Robotics Learning Center. Dengan memanfaatkan sejumlah material yang biasa-biasa saja, yang umum di pasaran lokal, dan mengolahnya berdasarkan ide dan konsep yang ada; maka lahirlah sebuah karya robot.

Kami bangga karena karya ini adalah karya lokal dan bukan berasal dari produk robot impor yang dikemas ulang. Sesuai dengan misi yang diusung Padepokan Robot NEXT SYSTEM : keunggulan lokal untuk keunggulan dan kemandirian bangsa, kami ingin ber-inovasi dan berkreasi, untuk melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan mandiri.

 

 

Silaturahmi Universitas Komputer Indonesia

Dalam program pengabdian masyarakat yang digelar jurusan teknik komputer Universitas Komputer Indonesia – Unikom, Bandung, Rabu, 2 Februari 2011; kami diundang untuk mengisi satu sesi berbagi pengalaman robotik, khususnya ketika mempersiapkan tim robotik, yang terdiri dari siswa SD/SMP/SMA, untuk berlaga di sejumlah kompetisi nasional dan internasional.

Saya hadir bersama dengan tiga anak binaan NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, yaitu: Samuel Christian Tjahyadi, Ricky Disastra dan David Partadinata. Masing-masing berbicara seputar pengalaman yang mereka peroleh, serta mendemokan beberapa aplikasi robot.

Acara yang dilangsungkan di aula Unikom, Jl. Dipatiukur Bandung, tersebut, dihadiri sekitar 120 peserta, mayoritas siswa SMA.

Seusai acara, kami ber-foto bersama dengan sejumlah guru pendamping siswa dan staf pengajar teknik komputer Unikom, Bandung.

Berdiri di belakang, dari kiri ke kanan: Engkos Koswara, S.Pd., Hidayat, M.T. , DR. Yeffri Handoko Putra, Ricky Disastra (Next System), Wendi Zarman, M.Si., David Partadinata (Next System), Ir. Christianto Tjahyadi (Next System).

Berdiri di depan, dari kiri ke kanan: Andi, S.Pd., Hali, S.T., Selvia Lorena, M.T., Sri Supadmi, S.Kom, Sri Nurhayati, M.T. , Samuel Christian Tjahyadi (Next System), Agus Mulyana, M.T.

Seminar Tugas Akhir Teknik Komputer Universitas Komputer Indonesia

Senin, 27 Desember 2010, berkesempatan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman dalam seminar / workshop tugas akhir yang diselenggarakan Teknik Komputer Universitas Komputer Indonesia (Unikom), bertempat di salah satu ruang kuliah kampus Unikom, jalan Dipatiukur Bandung.

Seminar diikuti oleh sekira 40 mahasiswa tingkat akhir, yang akan dan tengah mengerjakan tugas akhir. Di sesi kedua, ada sejumlah topik tugas akhir yang di-share, untuk memberikan inspirasi kepada mahasiswa yang hadir.

 

Di akhir acara, Bpk. Wendi Zarman, M.Si, Ketua Jurusan Teknik Komputer, memberikan kenang-kenangan. Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan, semoga sharing yang disampaikan, memberikan manfaat kepada seluruh rekan-rekan mahasiswa yang hadir.

Tim NSOne Senior Juara KROMA 2010

Tim robot Vanquish berhasil meraih peringkat pertama di perhelatan robot tingkat nasional, Kontes Robot Maranatha 2010, yang berlangsung di kampus Universitas Kristen Maranatha Bandung, November 2010.

Di gelaran perdana KROMA ini, Padepokan NEXT SYSTEM Bandung mendaftarkan 1 (satu) tim Senior yang berlaga di kategori SMA, dan 2 (dua) tim Junior yang berlaga di kategori SMP.

Tim robot Vanquish berhasil memecahkan persoalan robotik dan mencatat waktu terbaik. Saat ini, Samuel Christian Tjahyadi dan Ricky Disastra, berstatus siswa SMAK Trimulia Bandung, namun dalam laga ini, mereka membawa bendera Padepokan NEXT SYSTEM Bandung 🙂

Yang menjadi ciri khas dari anak-anak Padepokan NEXT SYSTEM Bandung adalah, mereka berlaga dengan robot rakitan sendiri, karena sejak dari semula memegang prinsip, yang membuat pasti bisa memperbaiki.

Selamat, yah!

 

Kontes Robot Maranatha 2010

Kontes Robot Maranatha (KROMA) 2010 merupakan kontes robot tingkat nasional pertama yang digelar oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Maranatha, Bandung, untuk memperkenalkan robotika sebagai salah satu pemanfaatan teknologi yang dapat ber-kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu. Dengan mengusung tema “Selamatkan Bumi”, ajang kontes robotik tingkat nasional yang meng-akomodasi siswa SMP/SMA ini digelar di Gedung Grha Widya Maranatha, 3-4 November 2010.

Kategori Junior yang dapat diikuti oleh siswa SD/SMP, mengangkat tantangan “Robot Pembuang Sampah”. Robot bertindak sebagai truk pengangkut sampah, yang wajib mengambil tong-tong sampah organik (berwarna hijau) dan anorganik (berwarna merah) yang berada di sejumlah lokasi jalan. Tong-tong sampah tersebut berupa tabung PVC ber-diameter 5 cm dengan berat maksimum 150 gram. Dalam perjalanannya, robot ditantang untuk mampu mengangkut tong sampah organik terlebih dahulu, dilanjutkan dengan tong sampah anorganik; dan pada kesempatan berikutnya, sebaliknya, robot ditantang untuk mampu mengangkut tong sampah anorganik, dilanjutkan dengan tong sampah organik.

Kategori Senior yang dapat diikuti oleh siswa SD/SMP/SMA mengangkat tantangan “Robot Penanam Pohon”. Robot ditantang untuk mencari sejumlah pot benih, berupa tabung PVC ber-diameter 5 cm dengan berat maksimum 150 gram, berwarna hijau, mengangkutnya ke atas gunung dengan kemiringan 10 derajat, dan menanamnya. Di arena ditempatkan 4 buah pot berwarna hijau dan 4 pot berwarna merah secara acak.

Dalam kontes yang berlangsung dari pk 08.00 – 18.00 ini, setiap peserta tidak hanya ditantang untuk menyiapkan robot dan pemrogramannya dalam waktu yang ditentukan. Saat pendaftaran, peserta harus menyampaikan proposal dan ketika kontes berlangsung, wajib mem-presentasikannya di depan tim juri yang terdiri dari sejumlah dosen.Di dalam arena pun, setiap upaya yang dilakukan tim yang berlaga, termasuk pada saat latihan, dinilai oleh tim juri. Tujuannya agar supaya tim yang memiliki kualitas baik, tidak saling bertanding di babak awal.

Dan yang terakhir, adu cepat. Dimana robot ditantang untuk menyelesaikan misi dengan waktu tercepat.Sementara di final, yang diperhitungkan adalah adu cepat untuk menyelesaikan tiga kasus yang berbeda. Setiap tim diberi waktu 30 menit untuk membuat solusi.Secara keseluruhan, KROMA 2010 merupakan kontes robot yang berani tampil beda, di tengah kompetisi kebanyakan yang hanya menantang adu cepat.

Dalam perhelatan ini, Padepokan Robot NEXT SYSTEM menurunkan satu tim untuk kategori Senior dan tiga tim untuk kategori Junior, yang berasal dari sejumlah sekolah. Tim robot Vanquish (Senior) – Samuel Christian Tjahyadi dan Ricky Disastra, keduanya siswa kelas XI. Tim robot V24 Vantage (Junior) – Michelle Emmanuella Tjahyadi (kelas IX) dan Edsel Jeremy (kelas VII), tim NS OneJocelyn Olivia Tjahyadi (kelas VII), dan tim Red ArrowFairuuz Xaveria (kelas VII).

Dalam pertandingan yang menegangkan, karena tantangan yang cukup sulit dan waktu kontes yang panjang, tim dituntut untuk mengerahkan seluruh kemampuannya secara maraton.

Untuk kategori Senior, tim Vanquish berhasil meraih peringkat pertama (Emas). Sementara untuk kategori Junior, tim NS One dan V24 Vantage, masing-masing meraih peringkat pertama (Emas) dan kedua (Perak). Sementara tim Red Arrow, yang juga lolos ke final, harus puas di posisi harapan tiga, karena robot mengalami gangguan teknis.

Di ajang KROMA 2010 ini, seluruh tim robotik Padepokan Robot NEXT SYSTEM memiliki komitmen untuk tampil dengan robot kreasi sendiri, dengan berpegang pada prinsip “Yang Membuat Pasti Bisa Memperbaiki“.

Tim merancang konstruksi robot dari nol, untuk menjawab tantangan kontes. Robot yang dikembangkan secara gotong royong ini memiliki penampilan yang paling heboh dan eye catching, dan merupakan satu-satunya robot lokal di KROMA 2010. Juga satu-satunya robot yang dilengkapi dengan lengan penjepit aktif, yang mampu menangkap target dengan mengesankan.

Tim NS One yang meraih peringkat pertama kategori Junior, merupakan satu-satunya tim robotik dengan peserta tunggal putri, seorang siswi kelas VII. Raihan yang dicapai Jocelyn Olivia memupus kesan bahwa prestasi robotik adalah milik siswa. Strategi yang diterapkannya mengundang tepuk tangan penonton saat final berlangsung, karena mampu menyelesaikan dua misi dengan skor sempurna.

Satu lagi prestasi tim robotik anak-anak Bandung di ajang kontes robotik yang diikuti oleh 26 tim dari Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Tengah.

Menjadi sebuah kebanggaan karena mereka berani tampil dengan robot kreasi lokal. Sebuah komitmen langka di tengah serbuan gencar produk robot impor saat ini.

Seminar ITB AVRologi 2010

2 Oktober 2010, HME Institut Teknologi Bandung menggelar acara seminar mikrokontroler yang mereka beri label AVRologi 2010. Sepintas, label ini memberikan kesan adanya cabang ilmu baru, mengenai mikrokontroler AVR 🙂

Pada awalnya, target panitia hanya 50 peserta saja. Namun, dalam perjalanan pendaftaran, jumlah peserta membludak hingga 110 peserta. Selebihnya terpaksa ditolak karena keterbatasan persiapan.

 

Seminar dimulai pk 10.30 wib dan berakhir pk 16.00 setelah diselingi jeda rehat sekitar 45 menit.

Peserta cukup curious dan menyimak paparan dan praktek yang disampaikan, hingga acara selesai. Sebuah durasi yang cukup panjang untuk sebuah event yang bernama seminar.

Terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan.

HU Pikiran Rakyat: Dalam Tiga Hari Bisa Membuat Robot

CHRISTIANTO Tjahyadi (kanan) menunjukkan cara kerja robot-robotnya di padepokan kawasan Baranangsiang Kota Bandung, Sabtu (14/8). Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini.* NURYANI/”PR”

Membuat robot ternyata tidak serumit yang dipikirkan banyak orang. Tidak perlu kuliah empat tahun atau pelatihan berbulan-bulan kalau sekadar ingin membuat robot cerdas. Cukup meluangkan waktu tiga hari, siapa pun bisa merakit dan menghasilkan sebuah robot.

Padepokan Robot Next System adalah salah satu tempatnya. Di tempat inilah semua orang yang tertarik dengan robot bisa memperoleh pelatihan bagaimana membuat robot dengan cara yang mudah dan sederhana. “Sebetulnya tidak sulit, dalam tiga hari pun siapa saja bisa membuat robot. Artinya dia bisa membuat program, merakit, sampai akhirnya membangun sebuah robot sesuai dengan keinginan pembuat dan membawa pulang robot tersebut,” kata penggagas padepokan, Christianto Tjahyadi saat ditemui di lokasi pelatihan, Sabtu (14/8).

Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini. Bahkan, tidak perlu mengimpor robot-robot produksi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan robot para pegiat robot termasuk sekolah dan perguruan tinggi. “Sayangnya belum banyak orang yang peduli dan berkonsentrasi di bidang ini. Padahal seperti di sini, saya bisa memproduksi robot-robot dengan bahan lokal. Tidak perlu beli robot lego dari negara lain, kita juga bisa. Harga sudah pasti jauh lebih murah dan yang penting perawatannya mudah. Bandingkan dengan lego yang ketika rusak tidak bisa diapa-apakan lagi, padahal itu investasi,” ujarnya.

Chris menambahkan, pelatihan robotik semacam ini sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, guru, dan kalangan akademisi. Para profesional dan orang tua juga bisa mempelajari cara merakit robot. “Ada robotic for kids, for teacher, for parents, dan robotic for family. Bahkan beberapa waktu lalu kami juga sempat melatih para profesional muda di sebuah perusahaan besar. Sebab dengan robot ini kita belajar menyelesaikan masalah, analisis, hingga solusi,” tuturnya.

Salah satu peserta pelatihan dari SMAN 1 Gadingrejo Lampung, Jumiran mengatakan dirinya bersama tiga siswanya sengaja datang ke Bandung untuk belajar lebih banyak mengenai robot.

“Ya mumpung libur juga dan sekalian dalam rangka persiapan menuju Kontes Robot Nasional tingkat SMA Oktober nanti. Pelatihan semacam ini cocok sekali untuk siswa dan saya berharap di sekolah nanti bisa membuka ekskul khusus robotik,” katanya. Salah seorang siswa, Ramadhan Aditya, mengaku sangat senang bisa belajar banyak hal dari pelatihan di Kota Bandung. (Nuryani/”PR”)***

Sumber: H.U. Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2010

Next System, Pencetak Pencipta Robot dari Kota Bandung

KOTA Bandung tak hanya menjadi trend setter mode dan produk-produk kreatif. Saat ini Bandung mulai dikenal sebagai kota robot.

Tapi jangan salah mengartikan. Bukan berarti di Kota Bandung banyak berkeliaran robot. Hubungan antara Kota Bandung dengan robot, lebih pada keberadaan pusat pelatihan robotik yang ada di kota ini.

Adalah Next System yang menjadikan Kota Bandung menjadi tujuan para guru dan siswa yang ingin belajar tentang robot. Seperti Ramadhan Aditio Kuncoro, siswa kelas XI bersama guru pembimbingnya, Jumiran, S.Pd. dari tim robot SMAN 1 RSBI Gading Rejo Lampung.

Ramadhan dan Jumiran mengikuti pelatihan robotik di Next System yang berlokasi di Kompleks Pertokoan ITC, Jln. Baranangsiang, Kota Bandung. Jauh-jauh ke Kota Bandung, mereka ingin menimba ilmu robotik di Next System.Ramadhan rencananya akan mengikuti olimpiade robotik yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional pada Oktober mendatang. “Dalam kurikulum di sekolah, terutama di pelajaran teknik informasi komputer/TIK tidak ada sama sekali pembelajaran tentang programing aplikasi,” ujar Jumiran tentang anak didiknya.

Di Lampung, ilmu robotik sangat minim, sehingga sulit untuk mengembangkan ilmu robotik di tingkat sekolah.

“Makanya kita jauh-jauh pilih ke Kota Bandung karena di kota ini sudah banyak prestasi yang ditelurkan,” katanya.

Kebiasaan berpikir

Pusat pelatihan robotik Next System merupakan buah dari gagasan Christianto Tjahjadi atau Chris. Next System didirikan atas desakan rekan-rekannya yang meminta bantuan untuk menularkan ilmunya.

Chris sebelumnya dikenal sebagai pembimbing robotik di sekolah di Kota Bandung. “Namun saya tidak puas dan merasa mentok, hanya terbatas pada siswa yang itu-itu saja. Dengan membuka padepokan ini, saya justru lebih tertantang karena bisa banyak memberi ilmu mengenai robot tersebut,” ungkapnya.

Di tempatnya sekarang, terdapat beberapa program pelatihan, seperti robotic for teacher, robotic for student, robotic for kids, dan robotic for family. “Di sini yang dilatih programing aplikasi dari robot tersebut. Tidak hanya buat, tapi diisi dengan program yang diinginkan. Apakah berjalan di atas garis, sensor terhadap cahaya, suara dan lainnya,” katanya.

Di Next System, siswa dikenalkan pada aplikasi dan membuat program sendiri. Ini sangat baik untuk mengasah kemampuan problem solving siswa.

“Tidak kalah pentingnya menciptakan kebiasaan berpikir dengan pola yang rapi,” katanya. (rinny rosliany/”GM”)**

Sumber: H.U. Galamedia

Siapapun Bisa Membuat Robot Cerdas

Sebuah kliping Radar Bandung edisi Senin, 16 Agustus 2010, yang mengangkat hasil bincang-bincang santai seputar robot untuk pendidikan di kantor NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, beberapa hari sebelumnya.

Membuat robot menjadi cerdas adalah bagian yang paling sulit. Dan seyogyanya, bagian ini menjadi fokus dari para peminat robotik.

Selama ini, banyak pembelajar robotik terlalu fokus pada bagaimana merakit robot.  Padahal, tanpa kecerdasan, robot hanyalah sebuah boneka pajangan.

Berikut adalah beberapa sifat robot:

* Tidak alamiah atau sesuatu yang dibuat.

* Bisa merasa, me-manipulasi dan ber-interaksi dengan lingkungan yang diberikan.

* Memiliki kemampuan untuk memilih berdasarkan kondisi lingkungan yang diberikan, karena adanya kendali otomatis dalam diri robot.

* Diprogram.

* Bergerak.

Bila melihat sifat-sifat tersebut, banyak alat yang bisa disebut robot. Seperti mesin cuci otomatis, eskalator otomatis, pintu yang dapat membuka dan menutup otomatis. Tetapi, mobil, hairdryer dan mesin pemotong rumput, termasuk mesin bukan robot.

Dari sifat-sifat di atas, robot adalah sebuah mesin namun tidak semua mesin adalah robot.

NEXT SYSTEM Robotics Learning Center menyelenggarakan sejumlah program pembelajaran robotik praktis, yang dapat diikuti oleh berbagai kalangan, gender dan usia. Siapapun bisa belajar robotik dan mendapat manfaat darinya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai robotik dan program pembelajarannya, silahkan menghubungi NEXT SYSTEM Robotics Learning Center di nomor telepon (022) 4222062, 70775874 atau melalui email: info@nextsys.web.id, atau datang langsung ke kantor kami di ITC Kosambi Ruko F2, Jl. Baranang Siang 6-8, Bandung 40112.

detik.com: Prestasi Robot Indonesia Sengat Semangat Pemuda

Bandung – Menggeliatnya robotika di daerah-daerah, salah satu penyebabnya, karena pemberitaan tentang prestasi robotika Indonesia di kancah internasional. Kaum muda di area yang relatif jauh dari kota besar itu pun tersengat dan terpicu semangat ingin mengembangkan robotika.

Demikian diungkapkan oleh Christianto Tjahyadi, Managing Director NEXT SYSTEM Robotic Learning Center saat berbincang dengan detikINET, Senin petang (14/6/2010). Menurutnya, pemberitaan tentang robotika memicu keingintahuan sekolah-sekolah di daerah untuk mempelajari robotika.

Kondisi seperti ini, sambungnya, sangat memudahkan pihaknya untuk menularkan virus robotika di seluruh daerah di Indonesia. “Mereka tersengat. Berbondong-bondong mereka ingin belajar tentang robotika,” katanya.

“Kami hanya jemput bola. Mereka datang dengan semangat. Hal ini berbeda dengan jika didorong-dorong untuk belajar robotika. Mereka tidak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar robotika,” ungkap pria yang bercita-cita melakukan roadshow ke sekolah-sekolah di daerah untuk menyebarkan virus robotika.

Dituturkan oleh Christ, panggilan akrab pria berkacamata ini, bahwa sudah 2 tahun pihaknya menyelenggarakan program pelatihan buat guru. Program yang bernama ‘Robotic Camp for Teacher’ ini memberikan pelatihan robotika dasar.

“Mereka belajar dasarnya. Mulai dari pengenalan robot, rancang bangun, sensor serta bagaimana membuat robot itu cerdas,” katanya.

Selama ini pesertanya pun kebanyakan tidak berasal dari kota besar. Justru dari kota-kota kecil seperti Tegal, Klampok, dan beberapa kota di Jabar dan luar Pulau Jawa. “Mereka justru lebih antusias. Motivasi mereka sangat kuat,” tegasnya.

Sumber: detik.com