Seminar ITB AVRologi 2010

2 Oktober 2010, HME Institut Teknologi Bandung menggelar acara seminar mikrokontroler yang mereka beri label AVRologi 2010. Sepintas, label ini memberikan kesan adanya cabang ilmu baru, mengenai mikrokontroler AVR 🙂

Pada awalnya, target panitia hanya 50 peserta saja. Namun, dalam perjalanan pendaftaran, jumlah peserta membludak hingga 110 peserta. Selebihnya terpaksa ditolak karena keterbatasan persiapan.

 

Seminar dimulai pk 10.30 wib dan berakhir pk 16.00 setelah diselingi jeda rehat sekitar 45 menit.

Peserta cukup curious dan menyimak paparan dan praktek yang disampaikan, hingga acara selesai. Sebuah durasi yang cukup panjang untuk sebuah event yang bernama seminar.

Terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan.

HU Pikiran Rakyat: Dalam Tiga Hari Bisa Membuat Robot

CHRISTIANTO Tjahyadi (kanan) menunjukkan cara kerja robot-robotnya di padepokan kawasan Baranangsiang Kota Bandung, Sabtu (14/8). Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini.* NURYANI/”PR”

Membuat robot ternyata tidak serumit yang dipikirkan banyak orang. Tidak perlu kuliah empat tahun atau pelatihan berbulan-bulan kalau sekadar ingin membuat robot cerdas. Cukup meluangkan waktu tiga hari, siapa pun bisa merakit dan menghasilkan sebuah robot.

Padepokan Robot Next System adalah salah satu tempatnya. Di tempat inilah semua orang yang tertarik dengan robot bisa memperoleh pelatihan bagaimana membuat robot dengan cara yang mudah dan sederhana. “Sebetulnya tidak sulit, dalam tiga hari pun siapa saja bisa membuat robot. Artinya dia bisa membuat program, merakit, sampai akhirnya membangun sebuah robot sesuai dengan keinginan pembuat dan membawa pulang robot tersebut,” kata penggagas padepokan, Christianto Tjahyadi saat ditemui di lokasi pelatihan, Sabtu (14/8).

Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini. Bahkan, tidak perlu mengimpor robot-robot produksi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan robot para pegiat robot termasuk sekolah dan perguruan tinggi. “Sayangnya belum banyak orang yang peduli dan berkonsentrasi di bidang ini. Padahal seperti di sini, saya bisa memproduksi robot-robot dengan bahan lokal. Tidak perlu beli robot lego dari negara lain, kita juga bisa. Harga sudah pasti jauh lebih murah dan yang penting perawatannya mudah. Bandingkan dengan lego yang ketika rusak tidak bisa diapa-apakan lagi, padahal itu investasi,” ujarnya.

Chris menambahkan, pelatihan robotik semacam ini sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, guru, dan kalangan akademisi. Para profesional dan orang tua juga bisa mempelajari cara merakit robot. “Ada robotic for kids, for teacher, for parents, dan robotic for family. Bahkan beberapa waktu lalu kami juga sempat melatih para profesional muda di sebuah perusahaan besar. Sebab dengan robot ini kita belajar menyelesaikan masalah, analisis, hingga solusi,” tuturnya.

Salah satu peserta pelatihan dari SMAN 1 Gadingrejo Lampung, Jumiran mengatakan dirinya bersama tiga siswanya sengaja datang ke Bandung untuk belajar lebih banyak mengenai robot.

“Ya mumpung libur juga dan sekalian dalam rangka persiapan menuju Kontes Robot Nasional tingkat SMA Oktober nanti. Pelatihan semacam ini cocok sekali untuk siswa dan saya berharap di sekolah nanti bisa membuka ekskul khusus robotik,” katanya. Salah seorang siswa, Ramadhan Aditya, mengaku sangat senang bisa belajar banyak hal dari pelatihan di Kota Bandung. (Nuryani/”PR”)***

Sumber: H.U. Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2010

Next System, Pencetak Pencipta Robot dari Kota Bandung

KOTA Bandung tak hanya menjadi trend setter mode dan produk-produk kreatif. Saat ini Bandung mulai dikenal sebagai kota robot.

Tapi jangan salah mengartikan. Bukan berarti di Kota Bandung banyak berkeliaran robot. Hubungan antara Kota Bandung dengan robot, lebih pada keberadaan pusat pelatihan robotik yang ada di kota ini.

Adalah Next System yang menjadikan Kota Bandung menjadi tujuan para guru dan siswa yang ingin belajar tentang robot. Seperti Ramadhan Aditio Kuncoro, siswa kelas XI bersama guru pembimbingnya, Jumiran, S.Pd. dari tim robot SMAN 1 RSBI Gading Rejo Lampung.

Ramadhan dan Jumiran mengikuti pelatihan robotik di Next System yang berlokasi di Kompleks Pertokoan ITC, Jln. Baranangsiang, Kota Bandung. Jauh-jauh ke Kota Bandung, mereka ingin menimba ilmu robotik di Next System.Ramadhan rencananya akan mengikuti olimpiade robotik yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional pada Oktober mendatang. “Dalam kurikulum di sekolah, terutama di pelajaran teknik informasi komputer/TIK tidak ada sama sekali pembelajaran tentang programing aplikasi,” ujar Jumiran tentang anak didiknya.

Di Lampung, ilmu robotik sangat minim, sehingga sulit untuk mengembangkan ilmu robotik di tingkat sekolah.

“Makanya kita jauh-jauh pilih ke Kota Bandung karena di kota ini sudah banyak prestasi yang ditelurkan,” katanya.

Kebiasaan berpikir

Pusat pelatihan robotik Next System merupakan buah dari gagasan Christianto Tjahjadi atau Chris. Next System didirikan atas desakan rekan-rekannya yang meminta bantuan untuk menularkan ilmunya.

Chris sebelumnya dikenal sebagai pembimbing robotik di sekolah di Kota Bandung. “Namun saya tidak puas dan merasa mentok, hanya terbatas pada siswa yang itu-itu saja. Dengan membuka padepokan ini, saya justru lebih tertantang karena bisa banyak memberi ilmu mengenai robot tersebut,” ungkapnya.

Di tempatnya sekarang, terdapat beberapa program pelatihan, seperti robotic for teacher, robotic for student, robotic for kids, dan robotic for family. “Di sini yang dilatih programing aplikasi dari robot tersebut. Tidak hanya buat, tapi diisi dengan program yang diinginkan. Apakah berjalan di atas garis, sensor terhadap cahaya, suara dan lainnya,” katanya.

Di Next System, siswa dikenalkan pada aplikasi dan membuat program sendiri. Ini sangat baik untuk mengasah kemampuan problem solving siswa.

“Tidak kalah pentingnya menciptakan kebiasaan berpikir dengan pola yang rapi,” katanya. (rinny rosliany/”GM”)**

Sumber: H.U. Galamedia

Siapapun Bisa Membuat Robot Cerdas

Sebuah kliping Radar Bandung edisi Senin, 16 Agustus 2010, yang mengangkat hasil bincang-bincang santai seputar robot untuk pendidikan di kantor NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, beberapa hari sebelumnya.

Membuat robot menjadi cerdas adalah bagian yang paling sulit. Dan seyogyanya, bagian ini menjadi fokus dari para peminat robotik.

Selama ini, banyak pembelajar robotik terlalu fokus pada bagaimana merakit robot.  Padahal, tanpa kecerdasan, robot hanyalah sebuah boneka pajangan.

Berikut adalah beberapa sifat robot:

* Tidak alamiah atau sesuatu yang dibuat.

* Bisa merasa, me-manipulasi dan ber-interaksi dengan lingkungan yang diberikan.

* Memiliki kemampuan untuk memilih berdasarkan kondisi lingkungan yang diberikan, karena adanya kendali otomatis dalam diri robot.

* Diprogram.

* Bergerak.

Bila melihat sifat-sifat tersebut, banyak alat yang bisa disebut robot. Seperti mesin cuci otomatis, eskalator otomatis, pintu yang dapat membuka dan menutup otomatis. Tetapi, mobil, hairdryer dan mesin pemotong rumput, termasuk mesin bukan robot.

Dari sifat-sifat di atas, robot adalah sebuah mesin namun tidak semua mesin adalah robot.

NEXT SYSTEM Robotics Learning Center menyelenggarakan sejumlah program pembelajaran robotik praktis, yang dapat diikuti oleh berbagai kalangan, gender dan usia. Siapapun bisa belajar robotik dan mendapat manfaat darinya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai robotik dan program pembelajarannya, silahkan menghubungi NEXT SYSTEM Robotics Learning Center di nomor telepon (022) 4222062, 70775874 atau melalui email: info@nextsys.web.id, atau datang langsung ke kantor kami di ITC Kosambi Ruko F2, Jl. Baranang Siang 6-8, Bandung 40112.

detik.com: Prestasi Robot Indonesia Sengat Semangat Pemuda

Bandung – Menggeliatnya robotika di daerah-daerah, salah satu penyebabnya, karena pemberitaan tentang prestasi robotika Indonesia di kancah internasional. Kaum muda di area yang relatif jauh dari kota besar itu pun tersengat dan terpicu semangat ingin mengembangkan robotika.

Demikian diungkapkan oleh Christianto Tjahyadi, Managing Director NEXT SYSTEM Robotic Learning Center saat berbincang dengan detikINET, Senin petang (14/6/2010). Menurutnya, pemberitaan tentang robotika memicu keingintahuan sekolah-sekolah di daerah untuk mempelajari robotika.

Kondisi seperti ini, sambungnya, sangat memudahkan pihaknya untuk menularkan virus robotika di seluruh daerah di Indonesia. “Mereka tersengat. Berbondong-bondong mereka ingin belajar tentang robotika,” katanya.

“Kami hanya jemput bola. Mereka datang dengan semangat. Hal ini berbeda dengan jika didorong-dorong untuk belajar robotika. Mereka tidak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar robotika,” ungkap pria yang bercita-cita melakukan roadshow ke sekolah-sekolah di daerah untuk menyebarkan virus robotika.

Dituturkan oleh Christ, panggilan akrab pria berkacamata ini, bahwa sudah 2 tahun pihaknya menyelenggarakan program pelatihan buat guru. Program yang bernama ‘Robotic Camp for Teacher’ ini memberikan pelatihan robotika dasar.

“Mereka belajar dasarnya. Mulai dari pengenalan robot, rancang bangun, sensor serta bagaimana membuat robot itu cerdas,” katanya.

Selama ini pesertanya pun kebanyakan tidak berasal dari kota besar. Justru dari kota-kota kecil seperti Tegal, Klampok, dan beberapa kota di Jabar dan luar Pulau Jawa. “Mereka justru lebih antusias. Motivasi mereka sangat kuat,” tegasnya.

Sumber: detik.com

detik.com: Banyak Salah Persepsi Tentang Belajar Robot

Jakarta – Prestasi yang ditorehkan oleh tim robotika Unikom di kancah internasional beberapa waktu lalu melecut semangat sekolah-sekolah di daerah untuk mempelajari robotika. Sayangnya, banyak yang salah persepsi tentang belajar robotika.

“Persepsinya kurang pas. Masih banyak orang beranggapan bahwa robotika itu cuma merakit. Padahal bukan itu,” ujar Christianto Tjahyadi, Managing Director NEXT SYSTEM Robotic Learning Center saat berbincang dengan detikINET.

Saat ini, sambungnya, setiap harinya ada puluhan email yang menanyakan tentang belajar merakit robot. Padahal menurutnya, dalam robotika, poin pentingnya bukan pada perakitan.

“Merakit, termasuk di dalamnya rancang bangun, penempatan sensor serta artistik hanya 30 persen. Yang terbesar justru pemrograman. Bagaimana membuat robot tersebut cerdas. Itu yang penting,” ungkapnya.

Christ, demikian pria ini akrab dipanggil menambahkan satu masalah lagi. Yakni masalah motivasi untuk menang kompetisi. Namun Christ menilai wajar hal ini. Sebab kompetisi akan menjadi penilaian bagi sekolah-sekolah yang mengikutinya, apalagi jika memenangkannya.

“Bagi saya menang kompetisi merupakan bonus atau hadiah dari belajar robotika. Yang utama adalah bagaimana robotika itu melatih cara berpikir, kerjasama tim, dan manajemen waktu. Itu yang penting,” tegasnya.

Berusaha mengikis persepsi tersebut, Christ pun mengaku punya cita-cita untuk menggelar roadshow ke sekolah-sekolah di daerah. Dalam roadshow tersebut, Christ ingin meluruskan persepsi tentang belajar robotika.

“Inginnya sih roadshow. Tapi kita coba dengan memberikan pemahaman yang benar tentang robot kepada media terlebih dulu. Karena banyak media yang juga  memiliki persepsi tersebut,” katanya.

Sumber: detik.com

detik.com: Robotika di Daerah Mulai Menggeliat

Bandung – Anggapan robotika hanya menjadi konsumsi masyarakat kota besar tampaknya akan runtuh. Sebabnya, sekolah-sekolah di daerah di luar kota besar sudah mulai menggeliat. Virus robotika telah menyebar ke beberapa kota kecil termasuk di luar Pulau Jawa.

Adalah NEXT SYSTEM Robotic Learning Center yang getol menularkan virus robotika. Tak hanya di kota besar, kota-kota kecil seperti Tegal, Klampok dan beberapa kota di Jabar serta luar Pulau Jawa mulai berdatangan ke markas besar NEXT SYSTEM yang berada di ITC Kosambi, Ruko F2, Jalan Baranangsiang 6-8, Bandung.

Program yang bernama Robotic Camp for Teacher menjadi andalan NEXT SYSTEM untuk mewariskan ilmu robotika ke guru-guru.

“Program ini sudah berjalan selama 2 tahun. Dan memang targetnya adalah pengajar. Baik guru, dosen atau instruktur robot di learning center,” papar Christianto Tjahyadi, Managing Director NEXT SYSTEM Robotic Learning Center saat berbincang dengan detikINET, Senin (14/6/2010).

Selama pelatihan, peserta mendapatkan pengetahuan dasar tentang robotika. Mulai dari bagaimana robot bekerja, menggunakan sensor, menyinergikan gerakan robot dengan sensor serta bagaimana robot bisa diperintah untuk melakukan suatu pekerjaan.

“Mereka belajar dasarnya. Pulang dari sini tinggal kreativitas mereka untuk menggali lagi kemampuannya,” ungkapnya.

Salah satu peserta pelatihan tersebut, Gagah Manunggal Putra, dari SMP Negeri 7 Tegal, mengaku motivasi pihaknya mengikuti pelatihan tersebut karena memiliki misi untuk mengenalkan robotika di Tegal.

“Tegal belum ada robotika. Sudah saatnya Tegal bicara tentang robotika,” kata pria yang mengajar TIK ini.

Bagi Gagah, robotika merupakan satu pelengkap dalam menerapkan konsep ‘4R in Education’. Konsep ini yang kemudian menjadi salah satu motivasi pihaknya mengejar ilmu ke Bandung.

“Kita ingin menjadikan ‘4 R in Education’ berlaku di sekolah kami. Reading, writing, arithmetic dan ditambah satu lagi yakni robotic. Karena dengan robotika, anak didik kita diajar lebih logis, matematis serta teliti. Ini yang akan menjadi bekal mereka nantinya,” katanya optimis.

Ditanya tentang kendala finansial yang selama ini selalu menjadi kendala bagi sekolah-sekolah, bahkan di kota besar sekalipun dalam mengembangkan robotika, Gagah mengaku bahwa di daerah, kendala tersebut tidak ada.

“Justru di daerah kami tidak mengalami kendala tersebut. Kalaupun tidak ada dana, kita bisa cari sponsor. Buktinya keberangkatan kita juga mendapat restu dari Pemkot Tegal. Yang penting kita optimis dan punya keyakinan bahwa robotika menjadi nilai tambah bagi kita semua,” tegasnya.

Sumber: detik.com

Seminar Let’s Play and Fun with Robot!

Jakarta, 25 Mei 2010 – Wajah sumringah dan antusias tampak pada wajah sekitar 500 mahasiswa AMIK Bina Sarana Informatika Jakarta. Mereka berasal dari empat lokasi kampus yang berbeda: Salemba, Jatiwaringin, Margonda Depok dan Cengkareng. Hari ini, mereka berkumpul di kampus Salemba untuk mengikuti seminar Let’s Play and Fun with Robot! dengan pemateri Ir. Christianto Tjahyadi dari NEXT SYSTEM Robotics Learning Center Bandung.

Seminar yang dilangsungkan dua sesi tersebut berlangsung meriah, karena sebagian besar peserta, yang merupakan mahasiswa jurusan teknik komputer tersebut, belum familiar dengan robotik. Sejumlah tayangan video dan demonstrasi yang dilakukan pemateri, mengundang aplaus dari peserta seminar. Atmosfir seperti ini merupakan ciri dari seminar robotik 🙂

 

Setelah menjelaskan apa itu robotik dan bagaimana memrogramnya, pemateri menyampaikan sejumlah live demo, diantaranya Distance Sensing, Remote Controlled Robot dan Line Following dengan kendali PID.

Kiranya, apa yang disampaikan hari ini dapat menjadi bekal dan pengalaman yang berharga untuk seluruh peserta yang hadir.

NEXT SYSTEM Robotics on TV ONE

Robotik bukan sekedar mempelajari produk robot. Robotik adalah ilmu pengetahuan. Untuk itu, mereka yang mempelajari robotik seyogyanya memahami hal ini sehingga tidak terkunci pada perangkat robot yang digunakannya ketika belajar.

Itulah yang diangkat dalam pembicaraan dgn TV ONE sore ini di kantor NEXT SYSTEM.

Selain isu pendidikan, beberapa anak yang berlatih di NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, pun mendapat kesempatan wawancara 🙂

KOMPAS: Robot Bukan Keagungan Teknologi Semata

Harian Umum KOMPAS, Sabtu, 15 Mei 2010 | 14:48 WIB

Oleh Cornelius Helmy

Sang Saka Merah Putih berkibar lagi dalam ajang Robogames 2010 di San Mateo County Event Center, Amerika Serikat, 24-25 April. Robot DU-114 buatan Universitas Komputer Indonesia menjadi juara dunia dalam kategori Open Firefighting Autonomous Robot.

Setahun lalu, versi awal DU-114 merebut medali emas untuk kategori yang sama. Robot pemadam kebakaran yang dibidani Yusrila Kerlooza dan Rodi Hartono itu berhasil menaiki tangga, menemukan, dan memadamkan titik api lebih cepat dari peserta lain.

“Menjadi luar biasa karena kami bersaing dengan negara pengembang teknologi yang sudah sangat maju, seperti Amerika dan Inggris,” ujar Yusrila.

Prestasi lain diraih tim Divisi Robotika Unikom dalam Kompetisi Robot Indonesia dan Kompetisi Robot Cerdas Indonesia (KRI-KRCI) Regional II-2010. Tiga robotnya meraih juara pertama di semua kategori KRCI. DU 114 V10 juara di kategori Senior Beroda, DU 116 di Senior Berkaki, dan DU 99-V2 pada Expert Battle.

Pengalaman yang sama diraih NEXT SYSTEM, lembaga penyelenggara program pelatihan mikrokontroler dan robotik. Hingga Mei ini enam gelar juara diraih tim binaannya. Beberapa di antaranya adalah tim SDK Trimulia (juara 1 dan 2 kategori Junior 1 T-Rex 2010), tim SMPK Trimulia (juara 2 kategori Junior 2 T-Rex 2010 serta juara 1, 2, dan 3 kategori Senior T-Rex 2010), dan tim Foxhound (juara 2 Robotic Day 2010).

“Sebelumnya, tim Vini Vidi Vici berhasil meraih medali perak kategori Maze Solving kelompok umur 13-18 tahun di South East Asia Robotics Olympiad 2009,” ujar Managing Director NEXT SYSTEM Christianto Tjahyadi.

Bukan tujuan akhir

Akan tetapi, meski telah meraih prestasi dunia, mereka sepakat tujuan akhir pengembangan robot saat ini tidak sekadar mengejar prestasi. Robot hanyalah sarana untuk tujuan lain yang lebih mulia. Yusrila berharap kemampuan membuat robot bisa digunakan mahasiswa sebagai bekal masa depannya. Mereka tidak semata-mata bisa membuat robot, tetapi juga menanamkan sikap disiplin, sabar, rajin, dan mampu bekerja dalam tim untuk semua jenis aktivitas.

“Sejak membidani Divisi Robotika Unikom pada 2005, saya lebih sabar berhadapan dengan orang lain. Bahkan saya menjadi lebih teliti dalam mengajarkan beragam hal,” katanya.

Christianto mengatakan, proses pembuatan lebih penting ketimbang mempelajari robot yang sudah jadi. Alasannya, banyak hal penting yang bisa dijadikan pelajaran dalam beragam kegiatan. Ia mencontohkan Robot Edukasi buatan Next System. Robot Edukasi bisa membawa siswa lebih memahami pelajaran di sekolah, seperti menghitung diameter roda untuk Matematika, belajar bahasa pemrograman di mata pelajaran komputer, serta menghitung gerak dan momentum benda yang ada dalam mata pelajaran Fisika.

Pembuatan robot juga bisa berfungsi sebagai alat latih psikologis melalui praktik kerja sama tim. Hal itu terbukti dengan banyaknya perusahaan yang menggunakan jasa pembuatan robot sebagai materi utama kegiatan outbound. Bahkan pembuatan robot telah dijadikan alat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Ketakutan masyarakat saat ini adalah robot menggantikan tugas manusia. Namun, lebih dari itu, teknologi dalam robot justru bisa membantu manusia menyelesaikan beragam hal sulit,” kata Christianto yang peserta pelatihannya berasal dari Aceh hingga Makassar.

Dosen pembimbing Unikom di KRI-KRCI 2010, Taufiq Nuzwir Nizar, juga berharap agar terciptanya robot bukan tujuan akhir pembuatnya. Pembuatnya harus mempertimbangkan unsur keuntungan lain yang didapat dalam proses pembuatannya.

“Setidaknya ada dua keuntungan yang didapat ketika memilih aktivitas pembuatan robot. Selain teliti dan disiplin, seseorang akan mengerti teknologi pembuatan robot yang nanti pasti berperan besar membantu aktivitas manusia,” ujar Taufiq.