Kuliah Umum Robotika STMIK PPKIA Tarakanita

Kuliah Tamu Robotika
Sabtu, 06 Februari 2010 10:22

Kuliah Tamu Robotika kemarin telah dilaksanakan bertempat di Swiss Bell-Hotel Tarakan seperti yang telah direncanakan semula oleh pihak Kampus. Syukur kepada Allah SWT acara berlangsung dengan baik, meski hujan sempat mengguyur kota Tarakan di pagi hari sejak pukul 7.30, otomatis acara tertunda sejenak karena cuaca yang kebetulan tidak mengijinkan.

Secara keseluruhan acara berlangsung dengan seru dan khidmat sampai pembicara harus meninggalkan tempat karena jadwal kepulangan sudah menunggu di Bandara Juata Tarakan.

Seminar Robotika di Kampus Biru ini bertajuk “Embedded Robotics : Mobile Robot Design and Applications” ini dipandu oleh moderator Bpk. Kandi Harianto, S.Kom, yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Robotika Kampus Biru dan pembicara Bpk. Ir. Christianto Tjahyadi sebagai seorang Pakar Robotika dari Bandung – Jawa Barat.

Pak Chris, demikian sebutan akrab beliau ini adalah lulusan Universitas Kristen Maranatha Bandung, dimana telah terlibat sebagai penggerak aktifitas Robotika di Bandung dan Provinsi Jawa Barat kurang lebih hampir 10 (sepuluh) tahun. Kiprahnya di dunia Robotika tidak lain dari memang latarbelakangnya seorang sarjana Teknik Elektronika lulusan 1990. Prestasi beliau yang tidak bisa dianggap enteng adalah beliau bersama-sama Dosen-Dosen Tim Robotika Universitas Komputer (UNIKOM) Bandung mampu menorehkan prestasinya memenangkan emas saat di Kontes Robotika di Amerika dua tahun lalu.

“Robot masa kini sudah jauh lebih mudah dan sederhana dibandingkan masa saat kuliah saya dulu”, demikian seperti apa yang disampaikan beliau disela-sela Kuliah Tamu di pagi kemarin (5 Februari 210). “Kecanggihan teknologi memang membuat alat semakin kecil dan semakin mudah untuk diprogram dan dikendalikan. Saat saya kuliah dulu, agak bergidik saat orang mengatakan akan membuat robot, namun saat ini kemudahan pembuatan robot menjadi sebuah sarana untuk mengintegrasikan (meng-embedded) pada hampir seluruh peralatan”, tambahnya.

Kuliah tamu ini berdurasi 120 menit, mulai jam 8 pagi hingga jam 10 WITA, dilanjutkan dengan sessi tanya jawab selama kurang lebih 30 menit. Antusiasme para peserta cukup tinggi, demikian juga saat di demokan robot yang kebetulan dibawa oleh beliau dengan kendali remotecontrol dan mampu mapping (pemetaan) jalur yang ada hingga robot bisa berjalan sesuai apa yang diinginkan.

Peserta sebenarnya kurang puas dengan waktu sessi tanya jawab yang dirasa kurang ini, namun apa mau dikata, karena waktu jua-lah yang membatasi. Namun pembicara menutup sessi ini dengan memberikan alamat email hingga dapat dikontak untuk konsultasi lebih lanjut.

Acara Kuliah Tamu ini diakhiri dengan penyerahan cinderamata bagi Pembicara dari Ketua STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati berupa  vandel dan kenang-kenangan berupa Batik khas Kalimantan Timur. “Kenang-kenangan ini sebagai simbol bahwa Pak Chris selalu ingat tentang Tarakan dan Kalimantan Timur”, demikian disampaikan oleh Ketua Sekolah Tinggi.

Acara berikutnya yang sangat ditunggu-tunggu juga oleh para peserta seminar adalah pengundian doorprize. Hadiah yang disediakan berupa beberapa jam meja, gelas dan agenda dari PT. Microsoft Indonesia yang sebenarnya akan dilaksanakan hari ini, tanggal 6 Februari 2010.

Demikian berita seputar kampus biru, sebagai acuan tentang aktifitas kita yang tidak pernah padam untuk terus berprestasi membuka wawasan dan mencerdaskan masyarakat kota Tarakan.

Sumber: STMIK PPKIA

Seminar Teknologi Robotika sebagai Inovasi dalam Dunia Pendidikan

Seminar nasional robotika yang mengangkat tema “Teknologi Robotika sebagai Inovasi dalam Dunia Pendidikan” dilangsungkan di kota Solo, 29 Oktober 2011, bertempat di aula SMAN 1 Surakarta.

Seminar robotika skala nasional pertama yang digelar oleh MGMP TIK SMA/MA Kota Surakarta ini, menghadirkan pembicara Ir. Christianto Tjahyadi dari NEXT SYSTEM Robotics Learning Center dan Tim Robotika Fakultas Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Seminar yang diikuti oleh sekitar 250 peserta, mayoritas guru TIK ini, berlangsung dengan hangat dan antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Solo, diawali dengan sejumlah sambutan dari panitia.

Bapak Ir. Christianto Tjahyadi yang tampil sebagai pembicara pertama mengangkat tema “Media Pembelajaran Berbasis Robotika”. Pembicara menekankan pentingnya memahami robotika sebagai keilmuan. Robotika dan produk robot adalah dua hal yang ber-sinergi, namun di dalam pembelajaran robotika, peserta didik tidak boleh terjebak atau terkunci pada melulu mempelajari produk robot.

Ranah robot cerdas juga menjadi perhatian khusus dari pembicara, pada sesi pertama yang berlangsung selama 120 menit; mengingat robot haruslah cerdas. Dan pengembang robot harus menjadi seorang inovator, bahkan kreator dan inventor; bukan sekedar pengguna atau operator.

Sesi demonstrasi menampilkan sejumlah kecerdasan sederhana dari sebuah robot, seperti mengikuti garis, men-deteksi penghalang, men-deteksi gas polutan, men-deteksi nyala api, serta pengendalian secara nirkabel. Semua kecerdasan tersebut bekerja secara simultan.

Sesi tanya jawab yang terlalu singkat, karena terbatasnya waktu, menyisakan sejumlah pertanyaan. Usai sesi, sejumlah peserta yang masih penasaran pun segera maju ke meja pembicara, agar bisa memuaskan rasa penasarannya, sekaligus melihat dan mencermati dari dekat, robot yang digunakan saat sesi demonstrasi.

Di akhir acara, Ketua MGMP TIK SMA/MA Kota Surakarta menyerahkan kenang-kenangan kepada nara sumber.

Terima kasih kepada MGMP TIK SMA/MA Kota Surakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada NEXT SYSTEM Robotics Learning Center.

Seminar Robotik I.T. Camp 2011

IT Camp 2011 yang diselenggarakan oleh satu kampus di Jakarta, dengan mengambil lokasi di Wisma YPB Cipanas, Puncak, khususnya sesi robotika, berlangsung pada hari Sabtu, 16 Juli 2011. Topik yang diangkat masih sama dengan kloter pertama, “Rancang Kendali Robot Cerdas“, dengan nara sumber Ir. Christianto Tjahyadi dari NEXT SYSTEM Robotics Learning Center Bandung.

Sesi yang berlangsung selama 180 menit ini diikuti oleh sekira 250 mahasiswa.

Sesi demonstrasi menampilkan dua buah robot kreasi anak-anak binaan NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, Robot Maze Solver dan Robot Green Bird, untuk meng-inspirasi peserta yang hadir saat itu.

Usai acara, seperti biasa, foto bersama untuk dokumentasi 🙂

Sharp Infra Red Ranger

Sharp Infra Red Ranger merupakan sensor jarak berbasis cahaya yang cukup banyak digunakan dalam aplikasi robotika. Masing-masing model memiliki kemampuan mengukur jarak yang berbeda, serta memiliki output yang berbeda pula (digital dan analog).

Berikut adalah masing-masing model serta kemampuan mengukurnya. Tanda merah merupakan jarak ukur tetap, dimana sensor akan memberikan output HIGH ketika “melihat” benda lebih dekat dari jarak yang telah ditentukan.

Area berwarna hitam adalah area di bawah jarak minimum. Pada jarak ini, sensor akan memberikan hasil pengukuran yang keliru. Area warna abu adalah jarak dimana sensor akan memberikan hasil pengukuran yang sesuai.

Dengan kemampuan yang beragam, maka pilihlah model yang memiliki kemampuan jarak pengukuran yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Untuk model dengan keluaran analog, tegangan output yang dihasilkan tidak linier (cenderung logaritmis) terhadap jarak benda. Untuk itu perlu dilakukan normalisasi sesuai dengan data grafik yang terdapat dalam datasheet.

GP2D12 ~ 10-80 cm dan GP2D120 ~ 4-30 cm adalah dua model dengan output analog yang cukup mudah didapat di pasar di Indonesia.

Robot Deteksi Polusi Punya Sayap

MASIH ingat dengan beberapa alat indikator polutan udara yang di Kota Bandung tidak berfungsi lagi? Atau beberapa kasus kebakaran yang diakibatkan elpiji di rumah tinggal bocor? Hmm, ada baiknya jika saat ini melirik Green Bird, robot pendeteksi polusi serta gas yang dianggap membahayakan bagi manusia.

Adalah tiga siswa SMP terdiri atas Michelle Emmanuella (15), lulusan SMP Trimulia dan Jocelyn Olivia (13), SMP BPK Penabur serta Fairuuz dari SMP Temasek. Ketiganya siswa berbakat binaan dari Padepokan Next System pimpinan Christianto Tjahyadi.

“Cara kerja dari robot ini sederhana banget. Sensornya akan langsung bekerja jika mendapati adanya polusi udara, asap kebakaran atau gas berbahaya seperti elpiji, metana, dan karbondioksida,” ungkap Michelle di Padepokan Next System, di pertokoan ITC Kosambi, Jln. Baranangsiang, baru-baru ini.

Dari segi penampilan, Green Bird yang dibuat selama satu bulan sangat menarik dengan dominasi warna hijau, bermata dua, sayap serta berparuh seperti burung tentunya. Bahkan bahannya pun relatif sederhana. Badannya hanya terbuat dari sebuah boks kue plastik ukuran 400 ml dengan ditutup baskom kecil.

Sensor pendeteksi udara yang terbilang menguras kantong yakni seharga Rp 160 ribu. Sebab sensor itu buatan negara China. Indonesia belum ada. “Kalau dihitung ya menghabiskan sekitar Rp 500 ribu untuk satu Green Bird ini,” terangnya.

Green Bird sendiri sudah diujicobakan di seputar wilayah Kota Bandung. Hasilnya sungguh mencengangkan. Sensornya langsung bekerja dan memberikan Early warning saat ditempatkan di perempatan Tegallega, Pasteur serta Cimahi di waktu sore hari.

Hmm, ide sederhana yang kemudian diaplikasikan untuk kepentingan orang banyak tentu sangat berharga. Salut buat Michelle dan kawan-kawan. (rinny/”GM”)**

Sumber: Galamedia

Green Bird Menjerit Jika Mendeteksi Polutan

Sirene “Green Bird” berbunyi. Menandakan keberadaan polutan udara yang membahayakan tubuh manusia. “Tuit..tuit..tuit,” begitu suarat yang dikeluarkan robot mungil pendeteksi polusi udara ini ketika mendeteksi adanya gas yang keluar dari sebuah korek pemantik api. Sumber gas disingkirkan dan robot pun kembali bergerak mencari polutan-poluatn lain yang mungkin masih ada di sekitarnya.

Begitulah cara kerja robot hasil karya Michelle Emmanuella (15), Jocelyn Olivia (13), dan Fairuuz (13). Dengan kreativitasnya, tiga siswa yang masih duduk di bangku SMP ini menciptakan robot yang mampu mendeteksi beradaan polutan berbahaya di udara. Dengan dibantu seorang mahasiswa, Michelle, Jocelyn, dan Fairuuz berkreasi membuat robot sederhana dengan fungsi yang luar biasa.

“Begitu ada polusi yang membahayakan dia akan berbunyi. Bisa gas karbondioksida, gas karbonmonoksida, gas elpiji, asap kebakaran, beberapa gas lain seperti metana juga bisa,” kata Michelle saat ditemui di Padepokan Robot Next System Jln. Baranang Siang Bandung, Senin (27/6).

Bentuk robot bernama Green Bird ini, menurut Michelle, dibuat sesederhana mungkin. Bahkan body robot hanya terbuat dari sebuah toples plastik kecil sementara kepala robot terbuat dari mangkuk plastik.

“Kenapa dinamai Green Bird karena tujuannya untuk kepedulian lingkungan dan bentuk kepalanya yang dibuat menyerupai burung,” tutur siswi SMP Trimulia yang akan melanjutkan studinya ke SMA Aloysius ini.

Pembuatan robot ini, kata Michelle, relatif mudah. Bahkan beberapa bahannya dibuat sendiri di Padepokan Next System, dan hanya sensornya yang merupakan produk impor. “Yang susah ya programnya, tapi menyenangkan dan nantinya bisa terus ditambah dengan beberapa kecerdasan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, Jocelyn menuturkan, robot ini sangat memungkinkan untuk dipakai di lingkungan sekitar manusia. Misalnya berpatroli keliling kompleks perumahan atau ditempatkan di pusat-pusat kepadatan kendaraan bermotor. “Sudah dicoba di beberapa tempat. Di sekitar rumah, di jalan raya. Seperti di Pasteur. Pada jam-jam padat robotnya langsung berbunyi,” ucap siswi SMP BPK Penabur ini.

Menurut Jocelyn, robot ini bisa dioperasikan dalam dua mode. Mode otomatis dan mode manual. Robot Green Bird ini juga dilengkapi dengan kemampuan jelajah. Artinya, dia bisa mencari sumber polutan yang dideteksi. “Misalnya ada kebocoran gas atau kebakaran. Dia bisa menemukan dan mencari sumbernya dimana,” tuturnya.

Sementara itu, pendiri Padepokan Next System, Christianto Tjahyadi, menuturkan, hasil-hasil karya semacam inilah yang memang dibutuhkan agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Apalagi kreasi Green Bird ini cukup sederhana dan bisa dilengkapi dan disempurnakan dengan berbagai fungsi lain yang akan lebih bermanfaat.

“Bentuknya bisa diperbesar. Fungsinya pun bisa ditambah. Bukan hanya mendeteksi tetapi juga menakar kadar polutan yang dideteksi,” ungkapnya.

Green Bird ini, kata Chris, baru versi awal dengan bentuk dan fungsi sederhana. Targetnya, selain kecerdasannya ditambah, nantinya robot ini juga bisa merekam data dan mengirimkan data polutan beserta nilai takarannya ke komputer.” Biayanya pasti akan lebih besar karena harus menambah sensor-sensor lagi. Kalau untuk yang ini relatif murah, tidak sampai Rp. 500.000,” ungkapnya. (Nuryani/”PR”)***

Wow, 2 Siswi Bandung Ciptakan Robot Pengukur Udara

Oleh: Ageng Rustandi

Senin, 27 Juni 2011 | 18:31 WIB

INILAH.COM, Bandung – Michelle Emmanuella (15) dan Jocelyn Olivia (13), dua siswa binaan NEXT SYSTEM Robotic Learning & Experience System berhasil menciptakan robot yang mampu mengukur kualitas udara.

“Konsep awal dari pembuatan robot ini adalah ikut kontribusi dalam penerapan Go Green di Kota Bandung dan bentuknya dengan mengukur kualitas udara,” ungkap Managing Director Next System; Robotic Learning & Experience System Christianto Tjahyadi saat ditemui wartawan di ITC Kosambi, Jalan Baranangsiang Kota Bandung, Senin (27/6/2011).

Robot yang diberi nama Green Bird ini dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi gas-gas berbahaya bagi manusia, di antaranya, asap kebakaran, knalpot, elpiji, propana, dan karbon monoksida.

Selain itu, kelebihan lain dari robot Green Bird ini yakni menggunakan material lokal, mulai dari bodi, hingga material lainnya. “Yang menggunakan bahan impor hanya sensor karena kita sendiri masih sulit untuk membuatnya,” tambahnya.

Robot Green Bird ini merupakan robot prototipe dan bisa diaplikasikan di dalam kehidupan manusia. Biaya untuk pembuatan robot ini sendiri tergolong cukup murah dengan menghabiskan dana sekitar Rp 500 ribu.

“Untuk ke depan kita akan menambah kecerdasan robot. Di antaranya dengan menambah sensor jarak sehingga robot terhindar tabrakan, kemudian hasil pemantauan robot terkait kadar udara bisa dikirim dari robot ke komputer,” tandasnya. [gin]

Sumber: inilah.com

Tim Satria 177 Juara Kontes Robot Seni Indonesia 2011

Puluhan robot dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia memenuhi gedung Graha Shaba Pramana – UGM di Yogyakarta pada tanggal 11 dan 12 Juni 2011 untuk mengikuti Kontes Robot Nasional 2011. Salah satunya adalah tim Satria 177 dari Universitas Telkom Bandung, yang dibekali dan dipersiapkan di Padepokan NEXT SYSTEM Bandung.

Adalah dua srikandi, Yuktika dan Retno, yang ketika itu berstatus mahasisa Teknik Elektro, memberanikan diri untuk datang ke Padepokan, membawa robot humanoid yang dalam keadaan mati suri. Proses pun berjalan, dan mereka berhasil mengatasi setiap tantangan yang ada, baik dalam tahap persiapan maupun saat laga di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sebuah perjalanan yang tidak mudah, namun ketika mereka berani mengambil kesempatan, maka hal yang baik pun mereka bisa dapatkan. Selamat, yah!

Memilih Mikrokontroler

Saat ini, beragam jenis mikrokontroler (uC) dapat kita jumpai di pasaran. Mulai yang berteknologi 8-bit hingga 32-bit, bahkan mikrokontroler dengan sejumlah prosesor di dalamnya (Propeller dari Parallax).

Namun, apapun teknologi dan brand uC yang dipilih, yang penting bisa memenuhi kebutuhan dari aplikasi yang akan dikembangkan. Kita tidak perlu memilih uC yang “canggih” jika ingin membuat pengontrol pompa air.  Atau, kurang tepat bila memilih uC yang “sederhana” untuk aplikasi robot yang kompleks serta memerlukan respons yang cepat. Jadi, perlu mempertimbangkan aspek tepat guna, sehingga hasilnya pun cost-effective 🙂

Dalam diskusi dgn beberapa rekan beberapa waktu lalu, banyak yang mempersoalkan penggunaan uC BASIC Stamp karena lambat. Dengan kemampuan mengolah 4000 instruksi per detik (BS2), rasanya tidak “lambat-lambat” amat. Bahkan untuk aplikasi robot sederhana, hasilnya cukup memuaskan.

So, mulailah dari yang sederhana, mudah dan ekonomis; dan segera wujudkan aplikasi pertama Anda. Itu merupakan trigger yang yang akan memicu lahirnya aplikasi-aplikasi berikutnya.

Proyek running LED merupakan aplikasi favorit dari banyak penulis buku uC berbahasa Indonesia. Mungkin bisa dicoba juga sebagai aplikasi pertama kita 🙂

Start small. Start now.

STMIK PPKIA Tarakan Juara KRCI 2011 Regional V

Di kesempatan kedua partisipasi tim robotik STMIK PPKIA Rahmawati Tarakan di ajang KRI/KRCI 2011, membuahkan hasil yang mengesankan. Dua tim robot mereka berhasil menorehkan prestasi di kategori Robot Soccer dan Robot Pemadam Api Berkaki.

 

Sabtu, 30 April 2011, pk. 17.30 wib, saya menerima sebuah SMS berisikan kabar gembira yang dikirim oleh Ketua STMIK PPKIA Rahmawati, Bapak Endyk Novianto. Selamat untuk raihan yang dicapai, tetap semangat dan bersiaplah lebih awal untuk kontes tingkat nasional.

Terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan kepada NEXT SYSTEM Robotics Learning Center Bandung 🙂