Mikrokontroler ARM Cortex-M, 10.11.2014 – 14.11.2014

Kloter pelatihan intensif bertajuk Pemrograman dan Aplikasi Mikrokontroler ARM Cortex-M berlangsung selama 5 hari penuh, 10 – 14 November 2014, di Padepokan NEXT SYSTEM Bandung.

Seluruh peserta berasal dari dunia pendidikan, dari Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Universitas Sriwijaya Palembang.

Dokumentasi bersama Asriyadi, M.T. (Politeknik Negeri Ujung Pandang), Sarwo Pranoto, M.Eng (Politeknik Negeri Ujung Pandang), Sri Desy, M.T. (Universitas Sriwijaya), Kurniawati Naim, M.T. (Politeknik Negeri Ujung Pandang).

Harian Umum Pikiran Rakyat, 10.10.2014

 

Seminar Arduino dan Komunikasi Android, 10.06.2014

Seminar Nasional 2014 dengan tema : Arduino dan Android – Teknologi, Aplikasi dan Komunikasi, yang diselenggarakan oleh Prodi Sistem Komputer Universitas Budi Luhur, Jakarta, Selasa, 10 Juni 2014; berjalan dengan baik, lancar dan antusias.

** Tampak dalam gambar, Ka Prodi Sistem Komputer, Bapak Irawan, menyerahkan piagam penghargaan kepada nara sumber.

Seminar dihadiri hampir 200 peserta, dari berbagai kalangan, memenuhi ruang teater di lantai 4 kampus Budi Luhur, yang menjadi tempat berlangsungnya seminar.

Semoga, materi dan pengalaman yang di-sharingkan selama seminar, meng-inspirasi dan memberkati seluruh peserta. Terima kasih kepada panitia yang telah mengundang 🙂

 

STIKI Malang Gelar Seminar untuk Kembangkan Ilmu Robotika, 08.05.2014

Ilmu tentang Raspberry PI tersebut disampaikan oleh praktisi elektronika, mikrokontroler, robotika, trainer, dan software developer dari Bandung, Ir. Christianto Tjahyadi. Christianto menyampaikan tentang perkembangan dunia robotika saat ini dan bagaimana Raspberry PI digunakan dalam membuat robot.

Perlu diketahui bahwa Raspberry Pi sendiri adalah sebuah komputer kecil seukuran dengan kartu kredit yang dikembangkan oleh sebuah yayasan bernama Raspberry PI Foundation di Inggris.

Raspberry PI sebenarnya merupakan mikroprosesor, bukan mikrokontroler. Mikroposesor ini awalnya dikembangkan oleh satu orang di Inggris dengan misi membuat mainan anak-anak yang menarik dan ternyata bisa menarik perhatian seluruh dunia,” ucap Christianto, Kamis (08/05).

Raspberry PI tersebut menggunakan sebuah chip . Uniknya di sini menggunakan satu prosesor tambahan, yakni prosesor graphic (grafis) seperti mesin game. Hanya saja masih seperti gadget keluaran awal karena masih single core (satu inti).

Ia pun mengurai tentang bagaimana cara memprogramnya, yakni dengan menggunakan bahasa pemrograman yang mudah dipahami. Menurutnya, secara de facto, Raspberry PI menyarankan memakai bahasa pemrograman Phyton. Dihadapan para peserta, ia pun menunjukkan bagaimana merakit sebuah robot dengan menggunakan Raspberry PI.

Menurutnya saat ini adalah zaman yang berbeda, dimana dengan waktu yang sempit kita dituntut bisa memunculkan aplikasi yang optimal. “Tuntutan hari ini adalah bisa mendeliver aplikasi tersebut dalam alat bantu yang mudah digunakan, tetapi powerfull sehingga fokus mengembangkan aplikasinya. Ini sangat cocok dengan konteks Raspberry PI,” terang Christianto.

Sebelum menyampaikan materi tersebut, iapun menyampaikan motivasi kepada para peserta. Ia mengingatkan bahwa saat ini kita berada di era yang serba ada, namun persoalannya adalah bagaimana kita memanfaatkan sumber daya yang ada tersebut. Menurutnya kesempatan datang hanya untuk mereka yang siap, karena itulah ia berpesan selagi masih menjadi mahasiswa, para peserta harus bisa memanfaatkan ranah-ranah yang membawa pengalaman baru.

Sementara itu ketua panitia seminar, Farik Ariyanto mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa memberikan wawasan tentang Raspberry PI sebagai pengontrol robot kepada setiap peserta. “Khususnya di Jawa Timur, ilmu tentang Raspberry PI ini belum banyak diketahui karena itu kami menggelar seminar ini,” ucap Farik.

Ia juga berharap setelah mengikuti seminar nasional ini para peserta bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya misalnya untuk pembuatan tugas akhir. Seminar tersebut bukan hanya dihadiri oleh para mahasiswa STIKI saja, namun juga dari kampus lain serta siswa SMA dan SMK di Kota Malang. (cah/yof)

Seminar Raspberry Pi for Robot Controller, 04.05.2014

Hari Minggu, 4 Mei 2014, seminar nasional Raspberry Pi for Robot Controller, di kampus Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia, Malang, telah berlangsung dengan baik.

Seminar dihadiri oleh lebih dari 260 peserta, dari berbagai kalangan, mulai dari siswa, mahasiswa, dosen dan praktisi.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua STIKI, Eva Handriyantini, S.Kom, M.MT., dan jalannya seminar dipandu oleh Mukhlis Amien, S.Kom, selaku pembina HIC – Hardware Interactive Club.

Ir. Christianto Tjahyadi, dari Padepokan NEXT SYSTEM Bandung, yang menjadi pemateri tunggal, memulai sesi dengan motivasi dan inspirasi – there is an important turning point in our life that changed our perspectives on life.

Usai sesi pendahuluan, acara dilanjutkan dengan materi seminar dan tanya jawab hingga tuntas pk 12.00 wib.

Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi, juga kepada seluruh panitia yang telah berjerih lelah menyelenggarakan acara ini.

Kutipan quote yang disampaikan di akhir sesi motivasi – Dengarkanlah nasehat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.

Fast Track to ARM Cortex-M4, 22.02.2014

ARM Holdings (ARM) merupakan sebuah perusahaan yang mendesain arsitektur prosesor semikonduktor dan berpusat di Cambridge, Inggris. Selain itu, ARM juga memiliki beberapa fokus lain, namun lebih dikenal karena desain prosesor mereka. ARM sendiri tidak memproduksi prosesor dalam bentuk fisik, mereka hanya menjual desain pada pihak ketiga, dan pihak ketiga tersebut bebas untuk melakukan kustomisasi dan memproduksi prosesor tersebut. Beberapa produsen prosesor dengan arsitektur ARM yang paling terkenal contohnya Qualcomm, Mediatek, dan bahkan Samsung dan Apple juga menggunakan prosesor berbasis ARM untuk smartphone dan tablet mereka.

Tidak hanya untuk ponsel pintar, ARM juga mendesain chip dengan sebutan Cortex M-series. Prosesor ini utamanya digunakan untuk perangkat microcontroller atau sebuah sirkuit terintegrasi dengan sebuah inti prosesor dan input/output yang bisa diprogram sendiri. Microcontroller digunakan pada produk yang berjalan secara otomatis, seperti alat medis yang bisa ditanam dalam tubuh, remote control, dan sistem pengontrol mesin kendaraan. Produk terbaru dari lini ini memiliki nama ARM Cortex M4 dan memiliki efisiensi dan kemudahan penggunaan lebih baik dari pendahulunya.

Sebagai sebuah produk yang sering digunakan dalam peralatan elektronik, jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Maranatha merasa perlu untuk mengadakan workshop demi mempelajari lebih lanjut mengenai prosesor terbaru dari ARM ini. Workshop ini terselenggara atas kerja sama antara jurusan Teknik Elektro UK.Maranatha dan vendor Infineon (perusahaan di Jerman). Workshop bertajuk “Fast Track to ARM CortexTM-M4” diadakan pada Sabtu, 22 Februari 2014 dengan menggandeng Bapak Ir. Christianto Tjahyadi sebagai pembicara. Bapak Christianto sendiri merupakan seorang praktisi ilmu komputer, microcontroller, robotika sekaligus pendiri dan CEO dari NEXT SYSTEM I.T Solution serta NEXT SYSTEM Robotics Learning Center.

Workshop yang bertempat di ruang laboratorium komputer gedung teknik UK. Maranatha ini tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa/i dari UK. Maranatha, tetapi juga dari beberapa universitas lain, seperti Universitas Indonesia, Telkom University, dan Universitas Pancasila. Hal yang menarik dalam workshop ini yaitu para peserta tidak hanya diberikan materi tentang ARM Cortex M4, namun masing-masing peserta juga diberi sebuah chip microcontroller buatan Infineon sebagai media untuk langsung mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Para peserta diberi pengarahan untuk melakukan pemrograman sederhana pada chip tersebut seperti menyalakan LED, sampai tahap yang lebih sulit, namun para peserta tetap terlihat antusias saat mengikuti workshop. (Edo PrinaldoReporter PR & P UK. Maranatha)

NB: Foto lainnya bisa dilihat di sini.

Robot Indonesia mau dibawa ke mana?

Minggu, 24 November 2013 – Prestasi anak bangsa bisa dibilang membanggakan, khususnya di bidang robot. Robot buatan Indonesia banyak diakui dunia internasional. Lihat saja penghargaan yang diperoleh. Akan tetapi, akan ke mana arah dunia robot di Indonesia?

Pemimpin Tim Riset Robot Edukasi NS One, Christianto Tjahyadi, mengatakan, prestasi bidang robot Indonesia yang cemerlang belum diiringi pengembangan hingga bisa dimanfaatkan secara nyata, baik untuk aplikasi industri ataupun bidang lainnya.

Saat ini robot masih sekedar tren. Belajar robot hanya untuk mengikuti lomba. Sementara di beberapa negara, robot memiliki target tertentu, misalnya, di Amerika, robot untuk eksplorasi luar angkasa, militer, sumber minyak, bahkan menjalani misi tertentu.

Demikian dengan Eropa, robot diterapkan untuk transportasi, sedangkan di Asia yang dimotori Jepang dan Korea, robot mengarah untuk entertainment. “Nah, kalau robot di Indonesia orientasinya cuma untuk lomba. Ketika industri minta, akhirnya bingung, robot industri dan lomba itu jauh beda, bumi dan langit. Belum ada robot yang bisa diaplikasikan karena standarisasi inudstri itu jauh di atas. Kita harus ajak siswa dan mahasiswa untuk mikir lebih realistis. Bukan hanya untuk lomba yang dunianya terbatas,” kata Chris.

Sementara itu, banyak negara yang tidak sering ikut lomba, tetapi mampu membuat robot dalam bentuk nyata. Seperti Singapura dan China. Dua negara ini sesekali saja mengikuti lomba, akan tetapi langsung diterapkan pada tahun berikutnya, membuat skala sungguhan.

“Paradigmanya harus diperbaiki, wawasan dibuka, harus belajar riil. Menang lomba bukan lagi kegembiraan yang euforia, setelah itu harus mikir apa selanjutnya supaya mereka yang juara juga nggak sombong karena masih banyak yang harus dipelajari. Jangan pernah berhenti belajar. Orang tua juga harus punya paradigma yang benar, jangan paksa anak hanya untuk jadi juara. Karena juara itu bonus sebagai bentuk apresiasi,” pungkasnya. —

Robot Indonesia mau dibawa ke mana? — masita ulfah

Koran Sindo: Utak Atik Robotik, 24.11.2013

24 November 2013 – Kepopuleran dunia robotik Indonesia berdampak pada semakin familiernya robot di masyarakat, terutama di tingkat universitas dan sekolah. Tak salah jika berbagai kegiatan robotik diselenggarakan, mulai kompetisi hingga kelompok belajarnya. Jadilah robotik menjamur di berbagai tempat.

Banyak anak muda yang terpacu membuat robot dengan keunikan tersendiri. Hal itu yang membuat mereka mampu bicara di dunia. Ada robot yang bisa menari, robot pemadam api, atau robot bermain bola. Tren membuat robot juga tengah digandrungi di Kota Bandung. Banyak di antara mereka yang masih duduk di bangku sekolah memiliki keahlian yang tidak kalah baiknya dengan mahasiswa atau profesional.

Michelle Emmanuella Tjahyadi termasuk siswa yang mampu bicara di dunia dengan prestasinya di dunia robot. Siswa kelas XII IPS SMA Santo Aloysius Bandung ini sudah menciptakan beberapa robot, seperti robot penyiram tanaman dan robot green bird. Robot yang dibuatnya ini mampu mendeteksi gas hidrokarbon, seperti elpiji, korek api, dan metana yang terkandung dalam sampah. Saat sensor mencium gas, akan bunyi sejenis alarm. Robot buatannya ini dapat digunakan untuk rumah tangga, misalnya untuk mendeteksi kebocoran gas.

Dia mengakui, untuk bisa menjadi sebuah robot bukanlah hal mudah, harus melalui sebuah proses belajar yang panjang. Mulai menentukan ide awal, seperti melihat kondisi lingkungan sekitar atau imajinasi pembuat robot, memprogram, hingga membangun robot. Salah satu kesulitan yang paling nyata adalah pemrograman robot. “Bagaimana mengubah ide kita ke bahasa program. Karena kesalahan membuat program, robot tidak bisa berjalan. Membuat robot juga memacu kreativitas kita untuk buat inovasi baru,” tuturnya.

Selain mahir membuat robot, Michelle kerap membagi ilmunya melalui buku yang dibuatnya. Pengalaman membuat robot green bird dituangkan dalam buku berjudul Membuat Robot Green Bird. Berbeda dengan buku teknik yang lain, buku ini memadukan cerita fiksi dan panduan teknis membuat robot. Dengan cara tersebut, akan lebih mudah belajar membuat robot. “Di internet juga banyak panduannya. Kesulitannya pasti ada, tapi sebetulnya buat robot itu nggaksusah kok. Buat saja dulu dari bahan sederhana, modal belajar robotik itu cuma rasa ingin tahu,” akunya.

Selain Michelle, remaja lain yang juga jatuh cinta pada robotik adalah Suhadra Pattra. Siswa kelas X SMAK 1 BPK Penabur Bandung ini sudah satu tahun mengikuti les robotik. Dia membekali dirinya dengan kemampuan dasar membuat robot, dimulai dari membuat otaknya, yaitu mikrokotroler. Ketika menemukan kendala, itu menjadi tantangan untuk bisa memecahkannya sendiri. “Kalau dasarnya sudah kuat, belajar membuat robotnya juga tidak akan terlalu susah. Kebanyakan orang langsung belajar buat robot, tanpa belajar dasarnya. Jadi susah,” ujarnya.

Akan tetapi, Suhadra jarang mengikuti kompetisi, dia lebih suka mengutak-atik barang elektroniknya. Kalau ada hal-hal baru, dia langsung uji cobakan. Hal itulah yang membuatnya betah dan ketagihan untuk belajar membuat robot. “Belajarnya juga nggak cukup di tempat les, di rumah juga harus ngoprek, banyaklatihan biar cepat bisa. Jadi, kemampuan kita makin berkembang,” pungkasnya.

Utak-atik Robotik — masita ulfah

Sensor Ultrasonic HC-SR04

Sensor ultrasonik HC-SR04 menggunakan sonar untuk menentukan jarak terhadap sebuah objek, seperti yang dilakukan Kelelawar atau Lumba-lumba. Sensor ini memiliki akurasi yang cukup baik dan pembacaan yang cukup stabil. Operasionalnya tidak dipengaruhi oleh cahaya matahari atau material berwarna gelap, namun dipengaruhi oleh material akustik. Sensor ini memiliki spesifikasi jangkauan 2 cm – 400 cm dengan resolusi 0.3 cm, serta jangkauan sudut kurang dari 15 derajat.

Walaupun spesifikasi-nya seperti yang disebutkan di atas, namun dalam praktik, kita perlu mencermatinya, khususnya ketika berhadapan dengan bidang pantul yang tidak tegak lurus, misal permukaan yang spherical atau bersudut. Dari sejumlah pengujian yang pernah dilakukan, perlu penempatan yang tepat ketika di-aplikasikan dalam aplikasi wall following robot.

Hal kedua yang perlu dicermati adalah siklus pembacaan. Catatan dalam datasheet, 60 ms. Jadi, perlu jeda 60 ms sebelum melakukan pengukuran berikutnya.

Ketika bekerja, HC-SR04 menarik arus ~ 15 mA dengan catu 5V.

Datasheet HC-SR04.

Dengan merujuk pada timing diagram di atas, berikut adalah contoh program dengan software NS.One, dengan board berbasis AVR ATmega16, untuk membaca Sensor Ultrasonik HC-SR04:

#define echoPin 8 // Echo Pin
#define trigPin 9 // Trigger Pin

long duration, distance; 

void setup() {
  Serial.begin (9600);
  pinMode(trigPin, OUTPUT);
  pinMode(echoPin, INPUT);
}

void loop() {
  digitalWrite(trigPin, LOW); 
  delayMicroseconds(2); 
  digitalWrite(trigPin, HIGH);
  delayMicroseconds(10); 
  digitalWrite(trigPin, LOW);
  duration = pulseIn(echoPin, HIGH);
  distance = duration/58;
  Serial.println(distance);
  delay(1000);
}

Berikan Karya Nyata bagi Bangsa

Berikan Karya Nyata bagi Bangsa

Oleh: Ariez Riza Fauzy
Pokok dan tokoh – Selasa, 29 Oktober 2013 | 15:41 WIB
Christianto Tjahyadi – inilah.com/Ariez Riza Fauzy

INILAH.COM, Bandung – Menjadi seorang negarawan, tidak harus mengangkat senjata dan pergi berperang. Memberikan karya nyata bagi negara melalui keahlian yang dimiliki bisa dilakukan pada saat ini.

Setidaknya hal itu yang dilakukan Christianto Tjahyadi. Seorang praktisi robotik sekaligus pemilik Next System.

Melalui keahliannya dalam bidang robotik, Christianto pun ingin memberikan ‘sesuatu’ bagi negaranya, Indonesia. Dengan keahliannya tersebut, Christianto pun terjun dalam dunia pendidikan.

“Dunia pendidikan dan teknologi pada saat ini merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Melalui pendidikan, kita bisa menciptakan sebuah karya. Itu yang penting,” ungkap Christianto kepada INILAH.COM saat ditemui di SMP negeri 2 Kota Bandung, Senin (28/10/2013).

Pria keturunan Tionghoa bermarga Xie ini menyebutkan, proses penciptaan robot merupakan implementasi dari materi yang diterima siswa di kelas. Selain itu, lanjutnya, siswa pun dapat mengambil hal-hal positif dalam proses penciptaan robot tersebut.

“Seperti pembentukan karakter, cara berpikir, dan menyelesaikan masalah melalui pendekatan teknologi. Tapi ingat, kita tidak bisa menuntut mesin berpikir seperti manusia,” terangnya.

Dengan moto hidup ‘mengubah pasir jadi mutiara dan selangkah lebih maju’, Christianto yang merupakan lulusan Teknik Elektro mulai menekuni robotik sejak 2006. Hingga kini, dirinya telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung dalam hal robotik.

“Saya ingin terus mengembangkan prestasi di bidang robotik ini,” tegasnya.

Dirinya berharap, para pelajar maupun masyarakat terus memotivasi diri untuk sukses dan memberikan sesuatu kepada bangsa sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Dan tangan kreator-kreator muda bisa membawa perubahan bagi Indonesia. [hus]