Robot Indonesia mau dibawa ke mana?

Minggu, 24 November 2013 – Prestasi anak bangsa bisa dibilang membanggakan, khususnya di bidang robot. Robot buatan Indonesia banyak diakui dunia internasional. Lihat saja penghargaan yang diperoleh. Akan tetapi, akan ke mana arah dunia robot di Indonesia?

Pemimpin Tim Riset Robot Edukasi NS One, Christianto Tjahyadi, mengatakan, prestasi bidang robot Indonesia yang cemerlang belum diiringi pengembangan hingga bisa dimanfaatkan secara nyata, baik untuk aplikasi industri ataupun bidang lainnya.

Saat ini robot masih sekedar tren. Belajar robot hanya untuk mengikuti lomba. Sementara di beberapa negara, robot memiliki target tertentu, misalnya, di Amerika, robot untuk eksplorasi luar angkasa, militer, sumber minyak, bahkan menjalani misi tertentu.

Demikian dengan Eropa, robot diterapkan untuk transportasi, sedangkan di Asia yang dimotori Jepang dan Korea, robot mengarah untuk entertainment. “Nah, kalau robot di Indonesia orientasinya cuma untuk lomba. Ketika industri minta, akhirnya bingung, robot industri dan lomba itu jauh beda, bumi dan langit. Belum ada robot yang bisa diaplikasikan karena standarisasi inudstri itu jauh di atas. Kita harus ajak siswa dan mahasiswa untuk mikir lebih realistis. Bukan hanya untuk lomba yang dunianya terbatas,” kata Chris.

Sementara itu, banyak negara yang tidak sering ikut lomba, tetapi mampu membuat robot dalam bentuk nyata. Seperti Singapura dan China. Dua negara ini sesekali saja mengikuti lomba, akan tetapi langsung diterapkan pada tahun berikutnya, membuat skala sungguhan.

“Paradigmanya harus diperbaiki, wawasan dibuka, harus belajar riil. Menang lomba bukan lagi kegembiraan yang euforia, setelah itu harus mikir apa selanjutnya supaya mereka yang juara juga nggak sombong karena masih banyak yang harus dipelajari. Jangan pernah berhenti belajar. Orang tua juga harus punya paradigma yang benar, jangan paksa anak hanya untuk jadi juara. Karena juara itu bonus sebagai bentuk apresiasi,” pungkasnya. —

Robot Indonesia mau dibawa ke mana? — masita ulfah

Koran Sindo: Utak Atik Robotik, 24.11.2013

24 November 2013 – Kepopuleran dunia robotik Indonesia berdampak pada semakin familiernya robot di masyarakat, terutama di tingkat universitas dan sekolah. Tak salah jika berbagai kegiatan robotik diselenggarakan, mulai kompetisi hingga kelompok belajarnya. Jadilah robotik menjamur di berbagai tempat.

Banyak anak muda yang terpacu membuat robot dengan keunikan tersendiri. Hal itu yang membuat mereka mampu bicara di dunia. Ada robot yang bisa menari, robot pemadam api, atau robot bermain bola. Tren membuat robot juga tengah digandrungi di Kota Bandung. Banyak di antara mereka yang masih duduk di bangku sekolah memiliki keahlian yang tidak kalah baiknya dengan mahasiswa atau profesional.

Michelle Emmanuella Tjahyadi termasuk siswa yang mampu bicara di dunia dengan prestasinya di dunia robot. Siswa kelas XII IPS SMA Santo Aloysius Bandung ini sudah menciptakan beberapa robot, seperti robot penyiram tanaman dan robot green bird. Robot yang dibuatnya ini mampu mendeteksi gas hidrokarbon, seperti elpiji, korek api, dan metana yang terkandung dalam sampah. Saat sensor mencium gas, akan bunyi sejenis alarm. Robot buatannya ini dapat digunakan untuk rumah tangga, misalnya untuk mendeteksi kebocoran gas.

Dia mengakui, untuk bisa menjadi sebuah robot bukanlah hal mudah, harus melalui sebuah proses belajar yang panjang. Mulai menentukan ide awal, seperti melihat kondisi lingkungan sekitar atau imajinasi pembuat robot, memprogram, hingga membangun robot. Salah satu kesulitan yang paling nyata adalah pemrograman robot. “Bagaimana mengubah ide kita ke bahasa program. Karena kesalahan membuat program, robot tidak bisa berjalan. Membuat robot juga memacu kreativitas kita untuk buat inovasi baru,” tuturnya.

Selain mahir membuat robot, Michelle kerap membagi ilmunya melalui buku yang dibuatnya. Pengalaman membuat robot green bird dituangkan dalam buku berjudul Membuat Robot Green Bird. Berbeda dengan buku teknik yang lain, buku ini memadukan cerita fiksi dan panduan teknis membuat robot. Dengan cara tersebut, akan lebih mudah belajar membuat robot. “Di internet juga banyak panduannya. Kesulitannya pasti ada, tapi sebetulnya buat robot itu nggaksusah kok. Buat saja dulu dari bahan sederhana, modal belajar robotik itu cuma rasa ingin tahu,” akunya.

Selain Michelle, remaja lain yang juga jatuh cinta pada robotik adalah Suhadra Pattra. Siswa kelas X SMAK 1 BPK Penabur Bandung ini sudah satu tahun mengikuti les robotik. Dia membekali dirinya dengan kemampuan dasar membuat robot, dimulai dari membuat otaknya, yaitu mikrokotroler. Ketika menemukan kendala, itu menjadi tantangan untuk bisa memecahkannya sendiri. “Kalau dasarnya sudah kuat, belajar membuat robotnya juga tidak akan terlalu susah. Kebanyakan orang langsung belajar buat robot, tanpa belajar dasarnya. Jadi susah,” ujarnya.

Akan tetapi, Suhadra jarang mengikuti kompetisi, dia lebih suka mengutak-atik barang elektroniknya. Kalau ada hal-hal baru, dia langsung uji cobakan. Hal itulah yang membuatnya betah dan ketagihan untuk belajar membuat robot. “Belajarnya juga nggak cukup di tempat les, di rumah juga harus ngoprek, banyaklatihan biar cepat bisa. Jadi, kemampuan kita makin berkembang,” pungkasnya.

Utak-atik Robotik — masita ulfah

Sensor Ultrasonic HC-SR04

Sensor ultrasonik HC-SR04 menggunakan sonar untuk menentukan jarak terhadap sebuah objek, seperti yang dilakukan Kelelawar atau Lumba-lumba. Sensor ini memiliki akurasi yang cukup baik dan pembacaan yang cukup stabil. Operasionalnya tidak dipengaruhi oleh cahaya matahari atau material berwarna gelap, namun dipengaruhi oleh material akustik. Sensor ini memiliki spesifikasi jangkauan 2 cm – 400 cm dengan resolusi 0.3 cm, serta jangkauan sudut kurang dari 15 derajat.

Walaupun spesifikasi-nya seperti yang disebutkan di atas, namun dalam praktik, kita perlu mencermatinya, khususnya ketika berhadapan dengan bidang pantul yang tidak tegak lurus, misal permukaan yang spherical atau bersudut. Dari sejumlah pengujian yang pernah dilakukan, perlu penempatan yang tepat ketika di-aplikasikan dalam aplikasi wall following robot.

Hal kedua yang perlu dicermati adalah siklus pembacaan. Catatan dalam datasheet, 60 ms. Jadi, perlu jeda 60 ms sebelum melakukan pengukuran berikutnya.

Ketika bekerja, HC-SR04 menarik arus ~ 15 mA dengan catu 5V.

Datasheet HC-SR04.

Dengan merujuk pada timing diagram di atas, berikut adalah contoh program dengan software NS.One, dengan board berbasis AVR ATmega16, untuk membaca Sensor Ultrasonik HC-SR04:

#define echoPin 8 // Echo Pin
#define trigPin 9 // Trigger Pin

long duration, distance; 

void setup() {
  Serial.begin (9600);
  pinMode(trigPin, OUTPUT);
  pinMode(echoPin, INPUT);
}

void loop() {
  digitalWrite(trigPin, LOW); 
  delayMicroseconds(2); 
  digitalWrite(trigPin, HIGH);
  delayMicroseconds(10); 
  digitalWrite(trigPin, LOW);
  duration = pulseIn(echoPin, HIGH);
  distance = duration/58;
  Serial.println(distance);
  delay(1000);
}

Berikan Karya Nyata bagi Bangsa

Berikan Karya Nyata bagi Bangsa

Oleh: Ariez Riza Fauzy
Pokok dan tokoh – Selasa, 29 Oktober 2013 | 15:41 WIB
Christianto Tjahyadi – inilah.com/Ariez Riza Fauzy

INILAH.COM, Bandung – Menjadi seorang negarawan, tidak harus mengangkat senjata dan pergi berperang. Memberikan karya nyata bagi negara melalui keahlian yang dimiliki bisa dilakukan pada saat ini.

Setidaknya hal itu yang dilakukan Christianto Tjahyadi. Seorang praktisi robotik sekaligus pemilik Next System.

Melalui keahliannya dalam bidang robotik, Christianto pun ingin memberikan ‘sesuatu’ bagi negaranya, Indonesia. Dengan keahliannya tersebut, Christianto pun terjun dalam dunia pendidikan.

“Dunia pendidikan dan teknologi pada saat ini merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Melalui pendidikan, kita bisa menciptakan sebuah karya. Itu yang penting,” ungkap Christianto kepada INILAH.COM saat ditemui di SMP negeri 2 Kota Bandung, Senin (28/10/2013).

Pria keturunan Tionghoa bermarga Xie ini menyebutkan, proses penciptaan robot merupakan implementasi dari materi yang diterima siswa di kelas. Selain itu, lanjutnya, siswa pun dapat mengambil hal-hal positif dalam proses penciptaan robot tersebut.

“Seperti pembentukan karakter, cara berpikir, dan menyelesaikan masalah melalui pendekatan teknologi. Tapi ingat, kita tidak bisa menuntut mesin berpikir seperti manusia,” terangnya.

Dengan moto hidup ‘mengubah pasir jadi mutiara dan selangkah lebih maju’, Christianto yang merupakan lulusan Teknik Elektro mulai menekuni robotik sejak 2006. Hingga kini, dirinya telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung dalam hal robotik.

“Saya ingin terus mengembangkan prestasi di bidang robotik ini,” tegasnya.

Dirinya berharap, para pelajar maupun masyarakat terus memotivasi diri untuk sukses dan memberikan sesuatu kepada bangsa sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Dan tangan kreator-kreator muda bisa membawa perubahan bagi Indonesia. [hus]

Buku From Bandung For The World

Buku “catatan sejarah” prestasi anak Bandung yang ditulis oleh Rini Rosliany, Yatti Chahyati dan Nur Yani, merupakan rekapitulasi dari tulisan prestasi anak Bandung yang mereka tulis selama kurun waktu 2 tahun terakhir di sejumlah media cetak di kota Bandung.

Robot Green Bird dan NS.One yang ketika itu “baru lahir”, menjadi bagian dari buku ini. Rencananya, buku bunga rampai, yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2013, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Pemkot Bandung dan DPRD Tk II Kota Bandung ini, akan dibagikan ke seluruh sekolah di kota Bandung; dan diharapkan dapat meng-inspirasi, me-motivasi dan memberkati anak Bandung pada khususnya dan anak bangsa pada umumnya.

Selamat dan teruslah berkarya, untuk para srikandi balad seperjuangan : Rinny Rosliany, Yatti Chahyati dan Nur Yani, yang telah menyusun buku ini.

Buku Membuat Robot Greenbird

Buku ini ditulis oleh Christianto Tjahyadi dan Michelle Emmanuella Tjahyadi, keduanya dari Padepokan Robot NEXT SYSTEM Bandung, untuk mengisi satu segmen pembelajaran robotik. Mengangkat kisah seorang anak remaja putri yang curious dalam meng-eksplorasi bidang robotik, di bawah bimbingan seorang guru yang ber-dedikasi dan berpengalaman.

Penulis mencoba menyampaikan pesan pembelajaran melalui cara lain, cara yang berbeda, cara yang lebih “ramah” dan santai; dengan harapan, dapat di-konsumsi oleh kalangan yang lebih luas.

Isi Buku

Buku yang memang ditargetkan untuk dikonsumsi oleh semua kalangan ini, terdiri dari 4 tema:

  • Say Hello to Microcontroller!

Berkisah tentang seorang remaja putri yang curious, Lucy, yang mendapat semangat dan inspirasi dari seorang guru ber-dedikasi, Pak Wijaya. Beliau yang memperkenalkan mikrokontroler kepada Lucy, dan membuatnya penasaran untuk terus mengoprek. Hasil oprekannya tidak selalu berhasil, sebagaimana seorang pemula. Namun seiring dengan perjalanan waktu, pengalaman pun berbicara. Lucy lebih apik dan teliti dalam menyusun program, sehingga bisa berteriak, “Eureka!”

  • Brumm .. Brumm … Ready for Magic Wheels!

Mainan yang dapat bergerak selalu menarik perhatian, apalagi pergerakannya dikendalikan dengan piranti cerdas yang dapat diprogram. Dengan demikian, setiap langkah pergerakan dapat diatur dan disusun sesuai dgn skenario yang kita buat. Lucy semakin antusias ketika masuk dalam konteks ini. Pikirannya pun melayang, memimpikan banyak hal untuk diwujudkan. Ungkapan kegembiraan pun kerap ditunjukkan, sebagaimana seorang remaja yang energik dan curios.

  • Hmm .. Sensing Something …

Untuk membuat perangkat cerdas, perlu sejumlah piranti pengindera, sehingga unit pemroses informasi, dapat memerintahkan sebuah aksi sesuai dengan masukan yang diterimanya. Pak Wijaya dengan sabar mengarahkan bagaimana sistem bisa merespon apa yang terjadi di sekitarnya. Mungkin materi ini agak berat untuk Lucy, namun dengan berbagai analogi dan contoh yang diberikan, akhirnya, Lucy pun bisa mengalahkan ketidaktahuannya. Pikirannya pun semakin melayang jauh, mencoba menggapai impian membuat sebuah Robot Green Bird!

  • Green Bird … Go! Go! Go!!

Akhirnya, bak pendaki gunung yang mencapai puncak, Lucy pun tak bisa menahan diri untuk meluapkan rasa gembiranya, ketika Robot Green Bird yang dibuatnya, me-respons setiap perintah yang diberikannya, baik melalui piranti remote control, maupun melalui program secara langsung. Lucy pun menyadari bahwa pencapaiannya adalah buah dari ketekunan dan semangat, serta motivasi dan inspirasi yang diberikan oleh Pak Wijaya, guru favorit-nya. Siapa pun bisa mencapai “puncak gunung” tersebut, karena setiap kita memiliki talenta dan potensi.

Selamat menikmati petualangan Lucy dan mendapatkan inspirasi darinya, dengan membaca tuntas buku Membuat Robot Green Bird.

Dari Penerbit

Kesan membuat robot itu sulit dan mahal memang masih ada dipikiran sebagai masyarakat. Uniknya, minat masyarakat menekuni robot pun terus tumbuh. Berbagai kontes dan perlombaan bermunculan, bak jamur di musim hujan.

Pesertanya pun dituntut untuk menciptakan robot dengan desain yang unik dan menarik.Agar mudah dipahami, buku ini disajikan dalam bentuk cerita yang menggabungkan unsur fiksi dan teknis, dengan Lucy dan Pak Wijaya sebagai tokoh utamanya.

Dimulai dari pengenalan mikrokontroler dalam bentuk modul, memprogram mikrokontroler untuk sebuah aplikasi pemula yang sederhana, berlanjut dengan dasar-dasar robotik dan penggunaan sensor, dan kemudian berlabuh pada aplikasi Robot Green Bird. Dilengkapi dengan berbagai CD program dan video pembuatan Robot Green Bird, buku ini akan menjadi sumber inspirasi dalam membuat makhluk canggih tersebut. So, buruan miliki buku ini. Jadilah penemu robot canggih..!

Cara Mendapatkannya

Buku ini dapat diperoleh di toko-toko buku Gramedia dan yang lainnya, atau secara online. Dapat juga menghubungi NEXT SYSTEM di alamat email : info@nextsys.web.id atau telepon (022) 4222062.

Testimoni

  • “Secara umum, bacaan dapat dimengerti. Cocok utk anak muda yg gemar dgn perkembangan Teknologi Informasi. Menggunakan gaya komik, menyenangkan untuk dibaca.” — Pendapat dari seorang penulis buku pendidikan (kandidat Doktor Ilmu Pendidikan), 28 Oktober 2013.
  • “Ini suatu terobosan yang bagus di dunia robotik. Khususnya untuk mengenalkan pada anak2. Saya sangat mendukung!” — Pendapat seorang praktisi robotik dan penulis beberapa buku robotik, 1 November 2013.
  • “Buku yg sangat memberkati. Isinya sangat terstruktur dan mudah dimengerti, saya sangat merekomendasikan sebagai buku wajib untuk semua orang termasuk anak2 yang tertarik dengan pengenalan dunia robotik.” — Pendapat seorang pembaca melalui Facebook, 3 November 2013.
  • “Buku ini sangat bagus dan menarik untuk dibaca! Saya sudah 20 tahun lebih tidak menekuni dunia mikrokontroler, dan setelah membacanya, menjadi bersemangat untuk kembali mengoprek.” — Pendapat orang tua siswa satu sekolah favorit di kota Bandung, 5 November 2013.

 

Kompetisi Robot Tak Diikuti Pengembangan Inovasi Terapan

Kamis, 11 Jul 2013 19:30:05 | Iptek

Antarajawabarat.com, 11/7 – Kompetisi robot yang digelar di Indonesia masih belum banyak yang berbasis inovasi terapan yang diproduksi massal di dalam mendukung aktivitas masyarakat.”Persoalannya robot juara, karya nyatanya di industri itu putus. Karena konteksnya adalah hanya robot kompetisi,” kata Direktur Utama NEXT SYSTEM Christianto Tjahjadi di Bandung, Kamis.Belum lama ini pameran robot International Conference on Biodiversity Climate Change and Food Security digelar di Bandung, namun menurut dia lomba robot berbasis inovasi masih jarang diselenggarakan.

“Sayangnya, di Indonesia yang namanya lomba robot sangat jarang yang berbasis inovasi terapan,” katanya.

Ia sangat menyayangkan robot yang ikut kompetisi tidak lantas berkembang untuk terus diproduksi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain membuat berbagai karya robot, Next System juga memberikan efek positif bagi para peserta yang tergabung di dalamnya.

“Dampak positifnya banyak, logika berpikir jelas, kreatifitas juga tumbuh, lalu karena bentuknya komunitas, maka ada simpati dan empati,” katanya.

Christianto menunjukkan bahwa dengan berkreasi di bidang robotika misalnya dapat memberikan prestasi nyata bagi siapapun yang menekuninya.

Padepokan robot yang berlokasi di Bandung tersebut tidak hanya menghasilkan robot-robot yang menarik, tetapi juga membangun SDM yang berkualitas.

“Sekarang kami lebih fokus ke bagaimana mereka bisa berkreasi, berinovasi, lalu bisa membangun diri,” kata Christianto menambahkan.***3***

Rizki Pratama

Sumber: ANTARA Jawa Barat News

Siram Padi Masa Depan Pake Robot Penyiram

RIZKI DWI/RADAR BANDUNG ROBOT CERDAS: Michelle Emmanuela (Kiri) dan Jocelyn Olivia (Kanan) sedang memperhatikan karyanya.

Di masa depan pekerjaan petani akan lebih ringan, bahkan untuk menyiram tanaman atau padi disawahnya cukup dengan memencet tombol On saja, maka robot yang akan mengerjakan tugas berat para petani. Hal tersebut menjadi ide awal dua siswi yang tergabung dalam Padepokan Robot Bandung.

Hilmi/ Radar Bandung

Michelle Emmanuela dan Jocelyn Ovilia tanpa ragu langsung memperlihatkan kelihaian robotnya, “Tugasnya cukup mudah yakni menyiram tanaman, dan juga tugas pertanian lainnya. Namanya Robot Penyiram Tanaman,” ujar Michelle yang ditemui di stand robotnya.

Ia yang tergabung dalam Padepokan Robot Bandung menjadi salah satu peserta dalam Pameran Robot yang merupakan rangkaian acara dalam Internasional Conference on Biodiversity, Climate Change and Food Security pada 2-4 Juli 2013 di  Hotel Grand Royal Panghegar.

Pameran robot itu sendiri terdiri dari 6 stand yang diisi dari ITB (Institut Teknologi Bandung), STMIK Bandung, Universitas Kristen Maranatha, UNIKOM dan dari Padepokan Robot Bandung.

Sementara Michelle Emmanuela dan Jocelyn Ovilia merupakan salah satu pengisi stand pameran robot dari Padepokan Robot Bandung.

“Cara kerja robot ini adalah ketika dioperasikan robot tersebut akan mengikuti garis sebagai rute robot akan berjalan kemana. Jadi robot akan berjalan sesuai dengan garis rute yang ditentukan. Sedangkan robot juga akan mendeteksi tanah kemudian menyiramnya pada tanah yang terdeteksi kering. Jika robot mendapati  tanah yang basah maka robot tersebut akan melewatinya saja dan tidak akan menyiramnya,” tutur Jocelyn.

Ide pembuatan robot ini dikatakan Michelle yaitu dari mobil penyiram tanaman yang tidak bisa memilih dan memilah tanah yang akan disiram kecuali dengan kendali manusia.

Robot ini diciptakan Michelle dan Jocelyn dalam waktu yang sangat singkat yaitu satu minggu, sekitar lima sampai enam hari. Pada tahun sebelumnya keduanya juga telah menciptakan sebuah robot yang bernama Green Bird. Robot yang mereka ciptakan atas sebuah ide berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat yaitu banyaknya korban meninggal akibat bencana tidak terduga.

“Robot Green Bird pendeteksi gas beracun yang biasanya tidak terlihat dan hampir atau tidak tercium oleh manusia. Misalnya bau gas di rumah tangga yang tidak terlihat dan kadang tidak ketahuan bau gasnya. Hal ini tentunya sebagai antisipasi bencana kebakaran atau keracunan gas beracun. robot akan mengeluarkan bunyi sebagai tandanya,” tuturnya.

Keduanya masuk dan mulai tertarik terhadap robot sejak usia sekolah dasar. Robot itu asik dan penuh pertualangan. “Kita berpetualangan melalui ide yang akan kita ciptakan dalam sebuah robot, misalnya dalam menciptakan sebuah konstruksi yang menarik dan sesuai dengan ide fungsi robot tersebut nantinya. Kita akan merasa sangat senang apalagi kalau robotnya  sudah jadi secara utuh,” ungkap mereka.(*)

Robot penyiram tanaman dari Michelle dan Jocelyn

Rabu, 3 Juli 2013 20:59 WIB

Bandung (ANTARA News) – Dua gadis dari Padepokan Robot Bandung, Michelle Emmanuela Tjahyadi dan Jocelyn Olivia Tjahyadi, mengenalkan robot penyiram tanaman lengkap dengan pengaturan kelembaban otomatis.

“Robot ini akan menyiram bunga dengan otomatis dengan pengaturan tingkat kelembaban yang dapat disesuaikan,” kata Michelle di sela-sela pameran robot di Grand Hotel Panghegar Kota Bandung, Rabu.

Robot penyiram tanaman itu merupakan salah satu dari sejumlah robot yang dipamerkan pada acara konferensi internasional keragaman hayati, perubahan iklim dan ketahanan pangan (International Conference on Biodiviersity, Climate Change, and Food Security).

Piranti yang dinamakan robot penyiraman tanaman karena dapat mengecek kelembaban tanah, sehingga dapat menyiram sesuai dengan kondisi kelembaban tanah tersebut.

Dengan mengadopsi teknik pelacak lintas (line tracker), maka robot dapat bergerak secara konsisten mengikuti alur di lahan pertanian.

“Robot ini akan berjalan mengikuti alur, dan saat mendeteksi tanah yang kering, robot ini akan menyiramnya,” kata Michelle.

Selain robot yang dibuat oleh padepokan robot Bandung, maka ada sejumlah robot lain yang dipamerkan di hotel Grand Panghegar mulai dari tanggal 2 Juli 2013.

Salah satunya robot dari Universitas Maranatha yang berupa pesawat untuk membantu petani dalam memantau areal pertaniannya.

“Pesawat ini bisa membantu petani dalam menjangkau area pertanian dengan adanya kamera streaming yang langsung dihubungkan dengan laptop,” kata Andi Pramana Tarigan, tim Robot Univeritas Maranatha.

Ia menjelaskan, dengan adanya kamera yang dipasangkan dalam pesawat tersebut, maka robot bisa memberikan sensor dalam mengukur suhu, kualitas udara, dan kelembabannya.

“Nantinya pesawat tersebut bisa memberikan sensor untuk mengukur suhu, kualitas udara, dan kelembaban tanah,” katanya.

Pameran itu memperlihatkan pula robot hasil karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), UNIKOM, dan STMIK Bandung. (*)

Editor: Priyambodo RH

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/383379/robot-penyiram-tanaman-dari-michelle-dan-jocelyn

Robot-robot Pertanian Karya Mahasiswa Mejeng di Bandung

Avitia Nurmatari – detikfinance

Selasa, 02/07/2013 15:23 WIB

Bandung – Teknologi robot bisa memudahkan dan memberi manfaat lebih bagi kehidupan manusia. Salah satu pemanfaatan teknologi robot juga bisa diterapkan di sektor pertanian.

Pengembangan teknologi robot tersebut dipamerkan dalam rangkaian acara International Conference on Biodiversity Climate Change and Food Security di Grand Hotel Panghegar, Jalan Merdeka, Selasa (2/7/2013).

Pada stand pameran bertajuk ‘Robot for Agriculture’ tersebut dipamerkan sejumlah karya robot seperti alat penyemai benih, robot pemberi pupuk, robot penyiram tanaman, hingga pesawat pemantau lahan persawahan.

Menurut Managing Director dari Next System, Christianto Tjahyadi mengatakan, ide awal pengembangan robot for agriculture ini tujuannya untuk mengaplikasikan teknologi sebagai salah satu solusi memecahkan masalah pertanian. Diharapkan dengan menggunakan teknologi robot, bisa mengefisiensi kegiatan industri pertanian dan meningkatkan ketahanan pangan.

“Departemen pertanian ingin memiliki suatu solusi teknologi untuk pertanian. Kami sebagai mitra teknis turut membantu untuk menyeleksi dan memantau tim yang ikut bergabung dalam eksibisi ini,” kata Christ selaku mitra teknis Departemen Pertanian dalam pengembangan robot for agriculture.

Pameran robot ini diikuti oleh empat kampus yakni Maranatha, STMIK Bandung, Unikom, ITB, dan satu komunitas robot yakni Padepokan Robot Bandung. Setiap tim memiliki konsep robot sendiri namuan harus memiliki manfaat yang nyata untuk diimplementasikan pada industri pertanian.

“Karena konsep robotik itu walaupun sederhana tapi berguna. Jadi ide nggak harus muluk tapi bisa diimplementasikan,” ujarnya.

Gagasan-gagasan dari peserta tersebut, lanjut Christ memang baru sebatas model awal dan belum dibuat seperti nyata karena keterbatasan waktu.

“Ke depan diharapkan ada tindak lanjut yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. Biasanya kan selama ini terbentur dana, tapi melihat situasi ini semoga Deptan menyediakan pos tersendiri untuk pengembangan robot for agriculture ini,” tutupnya.

(avi/hen)

Sumber: http://finance.detik.com/read/2013/07/02/152333/2290321/1036/robot-robot-pertanian-karya-mahasiswa-mejeng-di-bandung