Lokakarya Outcome-Based Education 14.08.2025

Dalam sebuah lokakarya terkait Outcome-Based Education, saya diundang untuk menyampaikan point of view terkait dengan isu ini, khususnya dari sisi penguatan kompetensi lulusan Program Magister Terapan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta, 14 Agustus 2025.

Visitasi Program Magister Teknik Elektro PNJ

Diskusi hangat seputar penelitian serta strategi publikasi ilmiah di Padepokan NEXT SYSTEM Bandung, 22 Juli 2025, bersama rekan-rekan dari Program Magister Terapan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta: Nana Sutarna, S.T., M.T., Ph.D. (Ka Prodi Magister Terapan Teknik Elektro), Tohazen, M.Tr.T dan Muhammad Imam Rafi, M.Tr.T.

Membedah tantangan untuk menembus jurnal bereputasi Q1, serta merumuskan target realistis berdasarkan topik-topik penelitian yang telah dan sedang berjalan. Kolaborasi, refleksi, dan strategi konkret menjadi kunci dalam langkah menuju publikasi yang berdampak.

Output Square Wave pada DS3231

Modul DS3231 merupakan real-time clock (RTC) dengan osilator kristal internal berfrekuensi 32.768 kHz yang telah dilengkapi kompensasi suhu (temperature compensated crystal oscillator/TCXO). Berkat fitur ini, modul mampu menghasilkan sinyal square wave 1 Hz secara langsung melalui pin SQW dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, yaitu kurang dari 2 ppm atau setara dengan penyimpangan waktu sekitar ±1 menit per tahun. Tingkat presisi tersebut menjadikan DS3231 sangat ideal sebagai sumber interrupt untuk aplikasi waktu nyata (real-time). Selain itu, modul ini juga relatif murah dan sangat mudah diintegrasikan dengan mikrokontroler melalui antarmuka I2C untuk keperluan konfigurasi maupun pembacaan data waktu.

Pin SQW pada modul DS3231 menggunakan konfigurasi open-drain, sehingga memerlukan resistor pull-up agar dapat menghasilkan level logika yang benar. Resistor pull-up dengan nilai sekitar 4,7 kΩ hingga 10 kΩ dihubungkan antara pin SQW dan VCC (baik 3,3 V maupun 5 V) untuk memastikan sinyal square wave dapat berfungsi dengan stabil dan dapat dibaca dengan baik oleh sistem.


#include 
RTC_DS3231 rtc;

void setup() {
  rtc.begin();
  rtc.writeSqwPinMode(DS3231_SquareWave1Hz);  // Aktifkan 1 Hz output
  // rtc.writeSqwPinMode(DS3231_SquareWave4kHz); // 4096 Hz
  // rtc.writeSqwPinMode(DS3231_SquareWave8kHz); // 8192 Hz
  // rtc.writeSqwPinMode(DS3231_SquareWave32kHz);// 32768 Hz
  // rtc.writeSqwPinMode(DS3231_OFF); // matikan
  attachInterrupt(digitalPinToInterrupt(2), ISR_function, FALLING);  // Interrupt pada falling edge
}

void ISR_function() {
  // Kode yang dieksekusi setiap 1 detik, misalnya update waktu
}

Pada sebagian besar modul DS3231, terdapat resistor 200 Ω yang disolder di dekat dioda 1N4148. Kedua komponen ini membentuk rangkaian pengisian (charging circuit) sederhana yang ditujukan untuk baterai tipe LIR2032 yang bersifat rechargeable. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua modul menggunakan baterai jenis ini. Beberapa modul justru dilengkapi dengan baterai CR2032 yang tidak dapat diisi ulang. Pada kondisi tersebut, resistor 200 Ω sebaiknya dilepas untuk mencegah kerusakan baterai akibat proses pengisian yang tidak semestinya.

Kuliah Umum Program Pascasarjana Politeknik Negeri Jakarta

Pada hari Senin, 16 Juni 2025, Program Pascasarjana Program Studi Magister Terapan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Jakarta, telah menyelenggarakan kuliah umum secara daring dengan topik: “Convergence of AI, IoT, and Next-Generation Networks in Integrated Energy, Control, and Communication Systems: Toward Sustainable and Resilient Industrial Ecosystems in the Era of Industry 5.0.

Kuliah umum ini membahas konvergensi tiga pilar teknologi masa depan—kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan Next-Gen Networks—dalam membangun sistem energi, kendali, dan komunikasi yang terintegrasi untuk mendukung ekosistem industri yang berkelanjutan dan tangguh di era Industry 5.0.

Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Nana Sutarna, Ph.D., selaku Ketua Program Studi Magister Terapan Teknik Elektro, atas undangan dan kesempatan yang diberikan. Semoga materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat, memperluas wawasan, serta menginspirasi seluruh peserta yang hadir, sekaligus mendorong kolaborasi dan inovasi lanjutan di bidang teknik elektro dan teknologi industri masa depan.

Seminar Nasional Teknik Elektro 2025

Perhelatan Seminar Nasional Teknik Elektro 2025 (SNTE 2025) telah sukses diselenggarakan di Auditorium Gedung Perpustakaan, Kampus Politeknik Negeri Jakarta, Depok. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid – kehadiran luring dan partisipasi daring.

Pada kesempatan tersebut, saya membawakan topik bertajuk “Microcontrollers in CPS: Powering Society 5.0’s Smart Future“. Dalam sesi pemaparan selama 60 menit, saya mengulas peran strategis mikrokontroler dalam membangun sistem siber-fisik (cyber-physical systems) yang menjadi fondasi bagi terwujudnya masyarakat cerdas (Society 5.0). Topik ini mencakup pemanfaatan mikrokontroler dalam integrasi sensor, aktuator, dan jaringan komunikasi, serta kontribusinya dalam otomasi, pengambilan keputusan real-time, dan transformasi digital di berbagai sektor—mulai dari industri hingga pelayanan publik.

Sesi pemaparan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung cukup interaktif, meskipun waktu yang tersedia sangat terbatas. Antusiasme peserta dalam menggali lebih dalam topik yang dibahas menjadi indikator pentingnya diskusi tentang teknologi siber-fisik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital saat ini.

Saya menyampaikan terima kasih kepada panitia atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan untuk berkontribusi dalam forum ilmiah ini. Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Ibu Dr. Murie Dwiyaniti, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta, atas undangannya yang sangat berharga.

Semoga apa yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan menginspirasi lebih banyak inovasi dalam dunia pendidikan dan teknologi.

Bagaimana Cara Bekerja NTP?

NTP menjaga agar jam di berbagai sistem komputer tetap sinkron meskipun ada penundaan dan variabilitas jaringan. Protokol ini bekerja dengan cara mengukur waktu pengiriman dan penerimaan paket antara klien dan server NTP, kemudian menghitung delay (penundaan jaringan) dan offset (perbedaan waktu antara jam sistem klien dan server).

Proses dimulai saat klien NTP mengirimkan permintaan waktu ke server. Permintaan ini tercatat pada waktu T1 (saat keluar dari klien) dan diterima oleh server pada T2. Server kemudian membalas dengan respons waktu yang dikirim pada T3 dan diterima kembali oleh klien pada T4. Berdasarkan keempat timestamp ini, klien menghitung dua hal penting:

  • Penundaan Jaringan (D) dihitung dengan rumus:
    D = (T4 - T1) - (T3 - T2)
    Ini merepresentasikan waktu tempuh bolak-balik dikurangi waktu pemrosesan di server.

  • Selisih Waktu (θ) atau clock offset dihitung dengan rumus:
    θ = [(T2 - T1) + (T3 - T4)] / 2
    Ini menunjukkan seberapa jauh jam klien tertinggal atau lebih cepat dibanding server.

Jika nilai clock offset cukup besar, klien NTP akan melakukan koreksi langsung dengan menyetel ulang jam sistem. Namun jika offset kecil (kurang dari 128 milidetik), maka penyesuaian dilakukan secara bertahap, dengan mempercepat atau memperlambat jam hingga sinkron.

Selain itu, kualitas jaringan juga diperiksa. Jika penundaan jaringan terlalu besar dan tidak stabil, klien dapat mengabaikan data dari server atau mengurangi pengaruhnya dalam proses sinkronisasi untuk menghindari koreksi waktu yang tidak akurat.

Dengan pendekatan ini, NTP memungkinkan sinkronisasi waktu yang akurat dan stabil di seluruh jaringan komputer, bahkan dalam kondisi jaringan yang fluktuatif.

ESP32-P4: Performa Tinggi dan Dukungan HMI

ESP32 telah menjadi sebuah game-changer di pasar mikrokontroler sejak diluncurkannya ESP32 di tahun 2016. Dikenal dengan harga murah dan konsumsi daya yang rendah, seri ESP32 yang meng-integrasikan kemampuan WiFi dan Bluetooth, menjadikannya pilihan populer untuk aplikasi IoT. Selama bertahun-tahun, Espressif telah mengeluarkan sejumlah varian, seperti ESP32-S2, ESP32-C3 dan ESP32-S3, masing-masing mengusung peningkatan dan fitur-fitur baru.

Diluncurkan pada Januari 2023, ESP32-P4 hadir dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan pendahulunya. Tidak seperti varian sebelumnya yang dilengkapi konektivitas WiFi atau Bluetooth bawaan, ESP32-P4 tidak memiliki kemampuan nirkabel internal. Sebagai gantinya, mikrokontroler ini difokuskan untuk pemrosesan berperforma tinggi dan dukungan periferal yang canggih, menjadikannya ideal untuk aplikasi yang memerlukan antarmuka manusia-mesin (HMI) yang kaya serta komputasi di sisi edge.

Dengan mengusung arsitektur dual-core RISC-V dan dilengkapi akselerator grafis 2D, pengontrol layar, dan kemampuan kamera yang lebih baik, ESP32-P4 membuka peluang baru untuk pengembangan perangkat yang lebih interaktif dan cerdas, seperti panel kontrol industri, smart display, maupun perangkat edge AI. Meski tanpa konektivitas nirkabel, chip ini tetap dapat dihubungkan ke modul eksternal (seperti ESP32-C3 atau ESP32-S3) untuk menangani komunikasi, sehingga tetap fleksibel untuk sistem terintegrasi.

🎓 Blog ini merupakan bagian dari inisiatif edukasi yang kami lakukan di Padepokan NEXT SYSTEM Bandung. Jika Anda tertarik untuk belajar langsung cara menggunakan ESP32, membangun proyek IoT, atau memahami pemrograman mikrokontroler dari dasar hingga lanjutan, kami mengundang Anda untuk bergabung di kelas pelatihan kami.

Membaca Penekanan Button Secara Analog

Pada gambar berikut, sejumlah button dihubungkan dengan mikrokontroler melalui rangkaian sederhana, menggunakan cara pembacaan analog yang memungkinkan kita untuk menentukan button mana atau kombinasi button yang ditekan.

Dengan pendekatan ini, hanya satu pin analog yang digunakan untuk mendeteksi beberapa tombol, sehingga sangat menghemat pin input mikrokontroler. Nilai tegangan hasil pembacaan ADC kemudian dapat diklasifikasikan menggunakan rentang nilai tertentu (threshold) untuk mengidentifikasi tombol yang ditekan.

🎓 Blog ini merupakan bagian dari inisiatif edukasi yang kami lakukan di Padepokan NEXT SYSTEM Bandung. Jika Anda tertarik untuk belajar langsung cara menggunakan ESP32, membangun proyek IoT, atau memahami pemrograman mikrokontroler dari dasar hingga lanjutan, kami mengundang Anda untuk bergabung di kelas pelatihan kami.

Optimized BiLSTM-Dense Model for Ultra-Short-Term PV Power Forecasting

Jurnal ini sudah disiapkan sejak satu tahun lalu. Namun, dikarenakan sejumlah kesibukan, akhirnya baru dikerjakan di tahun 2025 ini, dan sudah published pada tanggal 8 Mei 2025, melalui publisher Kinetik, yang memiliki akreditasi Sinta 2.

The growing integration of photovoltaic (PV) systems into power grids presents new challenges. These challenges arise from the inherent variability in PV output, especially during rapid weather changes. Consequently, accurate forecasting becomes essential for maintaining grid stability. However, many existing methods fail to capture short-term fluctuations effectively. To address this gap, ultra-short-term PV power prediction—within seconds—offers a promising solution. This study develops an optimized BiLSTM-Dense model to improve forecasting accuracy over a 30-second horizon. By adding a dense layer, the model can better learn complex temporal patterns and data dependencies.

For this purpose, the study uses a dataset collected in late 2023. The dataset includes solar irradiance, PV output power, surface temperature, ambient temperature, humidity, and wind speed. Before modeling, the data undergo normalization and smoothing. These steps help improve signal clarity and model robustness. Next, a grid search tunes the model’s hyperparameters. The process focuses on choosing the best optimizer and activation function. As a result, the Adam optimizer combined with the Swish function yields the best performance. The model achieves an MAE of 0.00271 and an RMSE of 0.00806. These outcomes indicate strong accuracy over ultra-short-term forecasting horizons.

Compared to the baseline, the BiLSTM-Dense model shows improved performance. It reduces MAE and RMSE by 0.52% and 2.19%, respectively, compared to the standard BiLSTM. Moreover, it surpasses the LSTM model with 4.00% lower MAE and 2.65% lower RMSE. Most notably, the model significantly outperforms ARIMA. It cuts MAE by 98.87% and RMSE by 97.21%. Therefore, these results highlight the model’s strength in learning non-linear and bidirectional temporal dependencies. Simpler models like ARIMA and unidirectional LSTM often fail to capture such complexity.

Sumber: https://kinetik.umm.ac.id/index.php/kinetik/article/view/2127

Seminar Nasional Teknik Elektro 2025

📣📣[SEMINAR NASIONAL TEKNIK ELEKTRO 2025]📣📣

Perkembangan Artificial Intelligence of Things (AIoT) menjadi kunci dalam membangun sistem terpadu dan infrastruktur cerdas guna mendukung visi besar Masyarakat era 5.0 untuk menjawab tantangan industri, kota pintar, dan layanan publik.

Bersamaan dengan hal tersebut, Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta hendak mengundang seluruh civitas akademika untuk dapat turut serta dalam kegiatan Seminar Nasional Teknik Elektro 2025 dengan tema:

🎓 “Peran Strategis AIoT dalam Membangun Sistem Terpadu dan Infrastruktur Cerdas di Era Masyarakat 5.0”

🗓 Kamis, 12 Juni 2025
🕤 Mulai Pukul 08.00 WIB
📍 Aula Lantai 3, Gd. Perpustakaan PNJ

👤 Narasumber:

A. Moelky Furqan, S.T., M.M.
Vice President of Network Planning & Architecture PT. Telkomsel Indonesia

Ir. Christianto Tjahyadi, M.Tr.T.
Chief Executive Officer (CEO) of NEXT SYSTEM I.T. Solution

Ir. Silvester Adi Surya Herjuna, M.T.
Manager ULP Jailolo, PT PLN (Persero)

🎙 Moderator:
Sinta Novanana, S.T., M.Si.

📞 Narahubung:
0857-2906-0923 (Rizdam)
0857-5545-0598 (Sulis)